“Sebetulnya kalau kita mau evaluasi apapun program, itu pertama jangan merusak fasilitas umum, fasilitas bersama, yang kalau rusak, ada beban yang harus ditanggung oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat,”katanya kepada PKBJakartaID, di ruang kerjanya, Gedung DPRD Daerah Khusus Jakarta, Selasa (14/1/2025).
PKBJakartaID | Jakarta, 14 Januari 2025 ~ Ada fenomena unik, tengah melanda sejumlah kota, termasuk Jakarta. Warga ramai-ramai mendatangi taman kota dan ruang publik, bahkan komplek perumahan. Mereka ramai berburu apa yang disebut dengan “Koin Jagat” yang bisa ditukarkan dengan nominal rupiah yang jumlahnya bervariasi, dan bahkan cukup menggiurkan.
Kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat menjadi salah satu lokasi favorit para pemburu koin ini, yang menurut informasi, tersimpan di titik-titik tertentu; di pot bunga, di sudut sebuah kelokan jalan, atau bahkan di pagar di tepi jalan.
Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan memeriksa selokan, menaiki jembatan penyeberangan, hingga memanjat balkon gedung. Berharap mendapat keberuntungan.
Saking ramainya, bahkan para pemburu “koin jagad” ini sampai-sampai tidak peduli dengan fasilitas umum. Merusak taman, pagar, dan bahkan merubuhkan vas atau pot bunga di pinggir jalan, dan fasilitas umum lain.
Mendapati fenomena ini, anggota fraksi PKB DPRD DKI Jakarta dari Komisi D, H. Ahmad Ruslan menyampaikan jika fenomena permainan tersebut tidak ada unsur edukasinya, bahkan cenderung merusak kebiasan masyarakat.

“Sebetulnya kalau kita mau evaluasi apapun program, itu pertama jangan merusak fasilitas umum, fasilitas bersama, yang kalau rusak, ada beban yang harus ditanggung oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat,”katanya kepada PKBJakartaID, di ruang kerjanya, Gedung DPRD Daerah Khusus Jakarta, Selasa (14/1/2025).
Menurut politikus PKB Jakarta ini, fenomena berburu “koin jagat” ini kurang pas untuk dilakukan. Kurang edukatif. Lebih banyak merugikan masyarakat. Juga hanya bersifat iming-iming palsu dan hanya segelintir orang saja yang bisa mendapat keberuntungan.
“Tidak perlu skill segala macam, jadi sebetulnya menurut saya kurang pas, karena cenderung hanya memotivasi seseorang untuk untuk mencari sesuatu dengan cara yang, bahkan bisa merusak fasilitas umum. Itu tidak boleh,”katanya tegas.
Karenanya, ujarnya secara pribadi maupun sebagai anggota dewan, hal-hal yang lebih banyak menimbulan mudhorat apalagi kerusakan fasilitas umum sebaiknya dihindari.
“Saya tidak setuju. Mestinya masyarakat itu diedukasi dan dimotivasi untuk bekerja keras dan menjaga fasilitas umum, bukan diiming-imingi dengan harapan palsu,”pungkasnya.
Ada di google play
Seperti ramai menjadi perbincangan, fenomena berburu “koin jagad” ini berdasarkan informasi di Google Play, aplikasi Jagat awalnya dirancang sebagai platform sosial untuk mendekatkan keluarga dan sahabat.
Fitur-fitur seperti berbagi lokasi real-time, menandai tempat favorit, hingga mengirim emoji menjadi daya tarik utamanya. Namun, aplikasi ini mencuri perhatian dengan menghadirkan permainan “Jagat Coin Hunt.”
Dalam permainan ini, pengguna berburu koin di berbagai lokasi untuk mendapatkan hadiah uang. Total hadiah yang ditawarkan mencapai Rp 850 juta pada Desember 2024 di Jakarta. Karena tingginya minat, permainan ini kini diperluas ke Surabaya, Bandung, dan Bali.
Koin yang diburu terbagi menjadi tiga jenis: emas, perak, dan perunggu. Nilai hadiah yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 300.000 untuk koin perunggu hingga Rp 100 juta untuk koin emas. Tak heran, aplikasi Jagat kini telah diunduh lebih dari 5 juta kali di Google Play Store per Minggu (12/1/2025).
(*)
Leave a Comment