Pramono Gagas Haul Ulama Betawi di Monas, PKB: Jangan Sekadar Seremonial, Perkuat Pendidikan Moral dan Insentif Guru Ngaji

Muhammad Lefi anggota FPKB DPRD jakarta
Anggota DPRD DKI Jakarta dari FPKB, Mohammad Lefi FOTO | Dok. PKBJakartaID

“Kami mendukung penuh inisiatif Gubernur. Ulama-ulama Betawi memiliki peran besar dalam pembangunan moral, budaya, dan penyebaran Islam di Jakarta. Mereka layak mendapatkan penghormatan resmi dari pemerintah,” ujar Lefi.

PKBJakartaID | Jakarta ~ Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menggagas penyelenggaraan haul tahunan untuk para ulama Betawi sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam membangun budaya, adat, serta menyebarkan Islam di Jakarta.

Gagasan itu, menurut Pramono, muncul usai salat Subuh berjamaah bersama Kiai Zawawi di Balai Kota. Dalam momen tersebut, ia mendapat masukan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi menginisiasi peringatan haul ulama Betawi.

“Saya sudah menegaskan, sudah waktunya Pemerintah DKI Jakarta bersama Majelis Kaum Betawi mengadakan haul untuk ulama-ulama Betawi yang berjasa bagi pembangunan budaya dan adat istiadat Jakarta,” kata Pramono saat buka puasa bersama di Masjid Tangkuban Parahu, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).

Ia mengusulkan agar haul digelar setiap bulan Juni dan dipusatkan di Monas sebagai ruang publik simbolik milik warga Jakarta.

“Saya akan gagas diadakan setiap bulan Juni, di Monas. Secara resmi tuan rumahnya adalah Pemerintah DKI Jakarta,” ujarnya.

Tak hanya haul, Pramono juga melontarkan ide “Betawi Night” sebagai agenda budaya rutin untuk menyambut tamu negara, sekaligus memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang berakar pada tradisi lokal.

“Saya meyakini kalau ini terus-menerus kita adakan, Betawi akan menjadi kebanggaan bagi kita semua,” tambahnya optimistis.

PKB Dukung, Minta Ada Komitmen Substansial

Merespons gagasan tersebut, Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKB, Muhammad Lefi, menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemprov DKI menggelar haul bagi ulama Betawi.

Menurut Lefi, haul bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum strategis untuk merawat ingatan kolektif atas kontribusi ulama dalam membangun karakter masyarakat Jakarta.

“Kami mendukung penuh inisiatif Gubernur. Ulama-ulama Betawi memiliki peran besar dalam pembangunan moral, budaya, dan penyebaran Islam di Jakarta. Mereka layak mendapatkan penghormatan resmi dari pemerintah,” ujarnya.

Namun, Lefi mengingatkan agar gagasan tersebut tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia menekankan pentingnya komitmen konkret dalam memperkuat pendidikan moral dan keagamaan di kalangan generasi muda.

“Penghormatan terhadap jasa ulama Betawi harus disertai komitmen nyata memperkuat pendidikan karakter dan moral keagamaan generasi muda, terutama di tengah tantangan era digital saat ini,” tegasnya.

Dorong Insentif Guru Ngaji dan Madrasah Diniyah

Lebih jauh, Lefi mendorong Pemprov DKI untuk memberikan perhatian serius kepada para guru ngaji, madrasah diniyah, dan majelis taklim sebagai penerus dakwah ulama Betawi terdahulu.

Menurutnya, para pendidik agama di tingkat akar rumput selama ini menjadi benteng utama pembentukan akhlak generasi Jakarta, namun masih membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat, termasuk insentif yang layak.

“Kita berharap ada penguatan program dan bantuan insentif bagi guru-guru ngaji, madrasah diniyah, dan majelis taklim. Mereka inilah yang melanjutkan estafet perjuangan ulama Betawi dalam membina umat,” jelas Lefi.

Ia menambahkan, jika haul digelar secara rutin dan dibarengi kebijakan konkret, maka Jakarta tidak hanya merawat simbol sejarah, tetapi juga merawat nilai dan tradisi yang menjadi fondasi peradaban kota.

Gagasan haul ulama Betawi di Monas pun kini menjadi wacana publik yang menarik: antara pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, dan kebutuhan mempertegas arah pembangunan moral Jakarta di masa depan. (AKH)

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment