Gen Z Udah Pilah Sampah, Tapi Negara Masih Nyampur Kebijakan

Photo by Pexels

Gen Z itu generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

PKBJakartaID | JAKARTA ~ Ada satu ironi yang makin hari makin kelihatan: Gen Z sibuk pilah sampah, tapi negara masih santai nyampur kebijakan. Di satu sisi, anak-anak muda ini rela ribet, bawa tote bag, nolak sedotan plastik, sampai ikut campaign lingkungan. Di sisi lain, sistem yang harusnya mendukung justru masih setengah hati, kayak niat diet tapi tiap malam tetap checkout makanan promo.

Perubahan iklim bukan lagi isu jauh yang cuma muncul di forum internasional atau seminar kampus. Banjir makin sering, cuaca makin nggak ketebak, dan kualitas udara makin bikin napas terasa mahal. Tapi anehnya, respons kebijakan sering kali terasa lambat, bahkan kadang nggak nyambung sama urgensinya.

Masalahnya bukan di kurangnya kesadaran publik, Gen Z sudah membuktikan itu. Masalahnya ada di level yang lebih tinggi: keberanian politik dan konsistensi regulasi. Ketika individu sudah mulai berubah, tapi negara masih tarik-ulur kepentingan, yang terjadi bukan solusi, tapi kelelahan kolektif.

Aksi Personal Udah Niat, Tapi Sistem Masih Bikin Ribet

Gen Z itu generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Mereka bukan cuma tahu soal perubahan iklim, tapi juga mencoba ikut berkontribusi, meski dari hal kecil. Mulai dari pilah sampah di rumah sampai memilih produk yang lebih ramah lingkungan.

Tapi niat baik ini sering mentok di realitas lapangan. Sampah yang sudah dipilah tetap dicampur lagi di tempat pembuangan, fasilitas daur ulang masih minim, dan edukasi publik belum merata. Rasanya kayak kerja kelompok, tapi yang ngerjain cuma satu orang.

Di titik ini, wajar kalau muncul rasa skeptis. Bukan karena Gen Z nggak peduli, tapi karena sistemnya belum memberi dukungan yang sepadan. Kalau negara masih setengah-setengah, aksi kecil yang harusnya jadi awal perubahan justru berisiko jadi rutinitas yang kehilangan makna.

Dari Gaya Hidup ke Regulasi: Negara Harus Berani Naik Level

Perubahan gaya hidup itu penting, tapi jelas nggak cukup. Masalah lingkungan itu skala besar dan solusinya juga harus besar. Di sinilah peran negara jadi krusial: bikin aturan yang tegas, bukan sekadar imbauan yang gampang dilupakan.

Regulasi soal pengelolaan sampah, pembatasan plastik sekali pakai, sampai transisi energi harusnya jadi prioritas, bukan wacana yang bolak-balik dibahas tanpa ujung. Tanpa dorongan kebijakan yang kuat, gerakan individu akan selalu kalah cepat dibanding kerusakan yang terjadi.

Kalau Gen Z sudah bergerak dari bawah, negara seharusnya berani mendorong dari atas. Karena pada akhirnya, perubahan besar bukan soal siapa yang mulai duluan, tapi siapa yang berani memastikan semuanya benar-benar jalan. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment