Masalahnya, ketika Gen Z milih buat nggak peduli, bukan berarti politik berhenti jalan. Justru sebaliknya, keputusan-keputusan penting tetap dibuat, tanpa suara kita. Dan di situlah letak bahayanya: masa depan yang bakal kita jalani justru ditentukan oleh orang-orang yang mungkin nggak ngerti (atau nggak peduli) sama realita hidup kita.
PKBJakartaID | Jakarta ~ Dulu kita sering diajarin kalau politik itu urusannya orang tua: yang pakai batik, duduk di ruang rapat, ngomongnya ribet, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Sementara kita? Ya cukup jadi penonton sambil scroll medsos, sesekali ikut nimbrung kalau lagi viral. Padahal tanpa kita sadari, keputusan politik itu nyusup halus ke hidup kita. Dari harga kopi yang tiba-tiba naik, biaya kuliah yang makin nggak santai, sampai peluang kerja yang makin kompetitif.
Masalahnya, ketika Gen Z milih buat nggak peduli, bukan berarti politik berhenti jalan. Justru sebaliknya, keputusan-keputusan penting tetap dibuat, tanpa suara kita. Dan di situlah letak bahayanya: masa depan yang bakal kita jalani justru ditentukan oleh orang-orang yang mungkin nggak ngerti (atau nggak peduli) sama realita hidup kita.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi “kenapa harus peduli?”, tapi “mau sampai kapan hidup kita diatur tanpa kita ikut campur?”
Bukan Sekadar Debat TV: Politik Itu Nentuin Harga Kopi Sampai Biaya Kuliah
Banyak yang ngira politik cuma soal debat panas di TV atau drama elit yang nggak ada hubungannya sama kehidupan kita. Padahal, keputusan politik itu langsung ngaruh ke hal-hal receh yang kita rasain tiap hari. Harga bahan pokok naik, ongkos transport berubah, sampai biaya pendidikan yang makin mahal, semuanya ada kaitannya dengan kebijakan yang dibuat pemerintah. Jadi kalau kamu ngerasa hidup makin “mahal”, bisa jadi itu bukan sekadar inflasi, tapi juga hasil dari keputusan politik yang nggak kamu ikutin.
Coba deh tarik garis dari hal sederhana: kenapa tarif transport bisa naik? Kenapa subsidi tertentu dikurangin? Kenapa biaya UKT di beberapa kampus makin bikin napas pendek? Semua itu bukan kejadian alam. Ada keputusan, ada prioritas, ada kepentingan yang bermain di baliknya. Dan keputusan-keputusan itu diambil lewat proses politik, yang sering kita anggap jauh, padahal efeknya dekat banget.
Masalahnya, karena dampaknya datang pelan-pelan, kita sering nggak ngeh. Kita lebih gampang nyalahin “keadaan” daripada nyari akar masalahnya. Padahal kalau lebih melek, kita bisa ngerti pola: kebijakan apa yang diambil, siapa yang diuntungkan, dan kenapa kita jadi ikut kena imbasnya. Dari situ, kita nggak cuma jadi korban keadaan, tapi bisa mulai jadi warga yang lebih sadar arah.
Kalau Kamu Nggak Peduli, Orang Lain yang Nentuin Hidupmu
Nggak ikut peduli politik bukan berarti kamu netral, itu artinya kamu ngasih ruang buat orang lain buat mutusin arah hidupmu. Dari pemimpin yang dipilih sampai kebijakan yang disahkan, semuanya berdampak langsung ke masa depanmu sebagai Gen Z. Ironisnya, kelompok yang paling kena dampak jangka panjang justru sering jadi yang paling cuek. Akhirnya, keputusan besar diambil tanpa representasi yang cukup dari generasi kita sendiri.
Bayangin kalau mayoritas anak muda milih buat apatis. Siapa yang akhirnya paling dominan suaranya? Ya kelompok yang lebih aktif, lebih vokal, dan lebih rajin ikut proses politik. Mereka yang datang ke TPS, mereka yang terlibat diskusi, mereka juga yang akhirnya lebih didengar. Sementara Gen Z yang jumlahnya besar malah jadi “silent majority” yang nggak punya pengaruh nyata.
Padahal, politik itu soal representasi. Kalau kamu nggak hadir, kamu nggak bisa berharap kepentinganmu otomatis diperjuangkan. Dunia kerja, pendidikan, bahkan isu-isu kayak kesehatan mental atau ekonomi digital, semua butuh suara dari generasi yang ngalamin langsung. Kalau nggak, ya jangan heran kalau kebijakan yang keluar terasa nggak nyambung sama realita hidup kita.
Dari Scroll ke Control: Cara Gen Z Mulai Melek Politik Tanpa Harus Jadi Sok Serius
Melek politik nggak harus langsung jadi aktivis atau ngerti semua istilah berat. Mulainya bisa dari hal simpel: follow akun yang bahas isu publik dengan cara ringan, cek fakta sebelum share, atau sekadar ngerti konteks berita yang lagi rame. Dari kebiasaan kecil itu, lama-lama kamu jadi lebih peka dan kritis. Intinya, daripada cuma scroll dan ngeluh, kenapa nggak sekalian ambil kontrol dan ngerti apa yang sebenarnya lagi terjadi?
Di era sekarang, akses informasi itu nggak kurang, yang kurang justru kemauan buat nyaring. Timeline kita penuh opini, tapi nggak semuanya valid. Di sinilah pentingnya jadi pengguna yang lebih sadar: belajar bedain mana informasi, mana propaganda, mana sekadar sensasi. Dengan begitu, kita nggak gampang kebawa arus atau jadi korban framing yang menyesatkan.
Pelan-pelan, dari yang awalnya cuma konsumsi informasi, kita bisa naik level jadi partisipan. Ikut diskusi, berani punya pendapat, bahkan terlibat dalam gerakan atau komunitas yang relevan. Nggak harus besar atau idealis banget, yang penting mulai dulu. Karena di balik semua itu, melek politik bukan soal jadi paling pintar, tapi soal nggak lagi jadi orang yang paling gampang diatur. (ACH)







Leave a Comment