Udah Ngegas Tiap Hari, Tapi Dompet Tetap Ngelag. Adakah Peran Kebijakan Publik yang Nggak Singkron ama Jeritan Rakyat?

GenZ sering menjadi objek kebijakan publik paling "nyata" di fase ini, meski kadang tak sadar "harus berbuat apa". Nasib mereka ada di tangan politisi dan pemerintah. Semakin acuh, semakin jauh dari peran idealnya sebagai pemimpin masa depan bangsa. ILUSTASI | Dok. istimewa

Kerja makin keras, tapi hidup tetap terasa mahal, kalau kita cuma diam, jangan kaget kalau masa depan kita terus ditentukan tanpa kita ikut bicara.

PKBJakartaID | Jakarta ~ “Udah ngegas tiap hari, tapi dompet tetap ngelag.” Kalimat ini bukan sekadar keluhan receh, ini realita yang lagi banyak dirasain Gen Z hari ini. Kerja ada, bahkan kadang lebih dari satu. Tapi pas akhir bulan, rasanya tetap seret. Harga kebutuhan naik pelan-pelan tapi pasti, biaya hidup makin tinggi, sementara pemasukan nggak selalu ikut ngebut. Dari yang kerja kantoran, pelaku UMKM, sampai yang hidup di gig economy, semuanya lagi berjuang di kondisi yang sama: kerja keras, tapi hasilnya belum tentu cukup.

Masalahnya, ini bukan cuma soal “kurang usaha” atau “harus lebih hustle lagi.” Ada sistem yang ikut bermain di belakang layar, dari kebijakan ekonomi, akses permodalan UMKM, sampai perlindungan buat pekerja fleksibel yang masih belum maksimal. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar kenapa hidup makin mahal, tapi apa solusi nyatanya? Dan di sinilah peran kebijakan publik jadi penting: bagaimana pemerintah, termasuk lewat Fraksi PKB – yang notabenenya kepanjangan tangan dan garis perjuangan partai di parlemen, hadir bukan cuma sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari solusi yang benar-benar terasa di kehidupan sehari-hari.

Kerja Ada, Tapi Nggak Cukup: Kenapa Ekonomi Harian Makin Berat?

Banyak anak muda hari ini sebenarnya sudah “melakukan semuanya dengan benar”. Lulus, cari kerja, bahkan nambah side hustle. Tapi tetap saja, rasa cukup itu kayak makin jauh. Gaji masuk, tapi cepat habis buat kebutuhan dasar yang terus naik. Dari makan, transport, sampai tempat tinggal, semuanya ikut “ngegas”, sementara pemasukan sering stuck di tempat.

Di sisi lain, pilihan kerja juga berubah. Nggak semua orang dapat pekerjaan tetap dengan penghasilan stabil. Banyak yang akhirnya masuk ke dunia gig economy atau jadi pelaku UMKM kecil-kecilan. Fleksibel, iya. Tapi juga penuh ketidakpastian. Hari ini ada pemasukan, besok belum tentu. Tanpa perlindungan yang kuat, posisi mereka jadi rentan.

Yang sering luput disadari, kondisi ini bukan terjadi begitu saja. Ada faktor kebijakan di baliknya, dari harga bahan pokok, akses modal usaha, sampai regulasi tenaga kerja. Ketika kebijakan nggak berpihak atau kurang adaptif, yang paling kena dampaknya ya masyarakat sehari-hari, terutama Gen Z yang lagi berjuang bangun hidup dari nol.

Dari Keluhan ke Solusi: Apa yang Dilakukan Fraksi PKB DPRD Jakarta?

Ngomongin masalah tanpa solusi itu gampang. Tapi yang dibutuhin sekarang adalah langkah konkret yang bisa langsung dirasain. Di tingkat daerah, peran DPRD jadi penting untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar nyentuh kebutuhan warga. Di Jakarta, Fraksi PKB mendorong kebijakan yang lebih dekat dengan realita ekonomi harian, bukan sekadar angka di atas kertas.

Beberapa fokus yang didorong antara lain penguatan UMKM lewat akses permodalan yang lebih mudah, pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pasar, serta dukungan buat pelaku ekonomi kreatif dan digital. Selain itu, penting juga ada perhatian lebih ke pekerja di sektor informal dan gig economy, supaya mereka nggak terus berada di posisi yang serba tidak pasti tanpa perlindungan yang jelas.

Tapi semua ini nggak bisa jalan satu arah. Partisipasi anak muda tetap jadi kunci. Mulai dari lebih aware sama isu ekonomi, berani menyuarakan kebutuhan, sampai ikut mengawal kebijakan. Kalau kamu ngerasa hidup makin berat, jangan cuma dipendem atau dijadiin meme, ikut cari tahu, ikut bersuara. Karena perubahan nyata butuh lebih dari sekadar keluhan, tapi juga keterlibatan. (ACH)

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment