Kebiasaan kita dalam mengonsumsi informasi seringkali terlalu cepat, tapi dangkal. Judul dibaca, langsung percaya. Dapat kiriman, langsung sebar. Padahal, satu klik “share” bisa jadi pintu masuk penyebaran hoaks yang dampaknya luas, dari keresahan sosial sampai konflik di dunia nyata. Ini bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau berhenti sebentar untuk berpikir.
PKBJakartaID | Jakarta ~ Di era sekarang, informasi itu datang bukan lagi kayak tamu, tapi kayak spam yang nyelonong masuk tanpa permisi. Dari grup WhatsApp keluarga sampai timeline media sosial, semua orang bisa jadi “penyiar dadakan”. Masalahnya, nggak semua yang dibagikan itu benar. Hoaks makin canggih, apalagi sejak teknologi AI ikut nimbrung. Yang dulu butuh editan ribet, sekarang cukup klik-klik, jadi konten yang keliatan meyakinkan.
Di titik ini, jadi melek informasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Sayangnya, literasi digital kita sering berhenti di level “yang penting kebaca”, bukan “yang penting dipahami”. Di sinilah pentingnya peran semua pihak (termasuk pemerintah daerah dan legislatif seperti Fraksi PKB DPRD Jakarta) buat nggak cuma ngomongin teknologi sebagai tren, tapi juga sebagai tantangan yang harus diantisipasi dengan serius.
Scroll, Share, Selesai? Literasi Digital Kita Masih Sekadar Refleks, Bukan Nalar
Kebiasaan kita dalam mengonsumsi informasi seringkali terlalu cepat, tapi dangkal. Judul dibaca, langsung percaya. Dapat kiriman, langsung sebar. Padahal, satu klik “share” bisa jadi pintu masuk penyebaran hoaks yang dampaknya luas, dari keresahan sosial sampai konflik di dunia nyata. Ini bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau berhenti sebentar untuk berpikir.
Fraksi PKB DPRD Jakarta melihat ini sebagai masalah serius yang nggak bisa diselesaikan cuma dengan imbauan. Perlu ada dorongan konkret lewat program literasi digital yang menyasar warga dari berbagai lapisan, mulai dari pelajar, orang tua, sampai komunitas akar rumput. Literasi digital harus jadi gerakan bersama, bukan sekadar jargon tahunan.
AI Bikin Pintar atau Bikin Panik? Antara Kemudahan Teknologi dan Ancaman Disinformasi
AI di satu sisi adalah alat yang luar biasa. Dia bisa bantu kerja lebih cepat, bikin konten lebih rapi, bahkan bantu analisis data dengan efisien. Tapi di sisi lain, AI juga membuka peluang baru untuk manipulasi informasi. Deepfake, teks otomatis, sampai gambar yang terlihat “realistis”, semuanya bisa diproduksi dalam hitungan menit. Dan sayangnya, nggak semua digunakan untuk hal yang baik.
Di sinilah dilema muncul. Kita nggak bisa menolak teknologi, tapi juga nggak bisa membiarkannya berjalan tanpa kontrol. Fraksi PKB DPRD Jakarta punya posisi penting untuk mendorong kebijakan yang adaptif, yang bukan cuma mendukung inovasi, tapi juga melindungi masyarakat dari dampak negatifnya. AI harus jadi alat pemberdayaan, bukan senjata kebingungan massal.
Negara Juga Harus Hadir Bikin Aturan yang Nggak Ketinggalan Zaman
Selama ini, narasi yang sering muncul adalah masyarakat harus lebih bijak, lebih kritis, lebih selektif. Itu benar, tapi nggak cukup. Karena di saat yang sama, arus informasi terus melaju tanpa rem yang jelas. Platform digital punya algoritma sendiri, pembuat konten punya kepentingan sendiri, dan warga seringkali jadi pihak yang paling rentan. *ACH
Negara, dalam hal ini pemerintah daerah bersama DPRD, harus hadir lebih tegas. Bukan untuk membatasi kebebasan berekspresi, tapi untuk memastikan ada aturan main yang adil dan melindungi publik. Fraksi PKB DPRD Jakarta bisa mengambil peran strategis dengan mendorong regulasi yang relevan dengan perkembangan zaman, mulai dari pengawasan konten digital, kolaborasi dengan platform, hingga perlindungan data masyarakat.
Lebih dari itu, pendekatan yang diambil juga harus kolaboratif. Regulasi yang baik bukan yang kaku dan top-down, tapi yang melibatkan berbagai pihak: komunitas, akademisi, pelaku industri, dan warga itu sendiri. Karena pada akhirnya, ekosistem informasi yang sehat nggak bisa dibangun sendirian. Ia butuh kerja bareng, kesadaran kolektif, dan keberanian untuk beradaptasi. *ACH







Leave a Comment