Milih Tanpa FOMO, Bukan Soal Siapa Viral, Tapi Siapa Punya Kapasitas

Photo by Pexels

Mulai banyak yang membedakan antara “terkenal” dan “kompeten”. Ada politisi yang jago bikin konten, tapi ketika ngomong substansi, kosong. Ada juga yang nggak terlalu viral, tapi kerjaannya nyata dan konsisten. Di titik ini, Gen Z mulai belajar menyaring, mana yang sekadar hiburan, mana yang benar-benar layak dipertimbangkan.

Di era ketika timeline bisa menentukan siapa terlihat “penting”, Gen Z justru mulai pelan-pelan keluar dari jebakan FOMO. Viral bukan lagi ukuran utama. Banyak yang sadar, jadi populer di media sosial tidak otomatis berarti punya kapasitas memimpin. Dari yang awalnya cuma lihat konten, sekarang mulai bandingin rekam jejak, cara bicara, sampai konsistensi sikap. Bukan berarti Gen Z jadi tiba-tiba idealis total, tapi ada pergeseran: dari sekadar ikut ramai, jadi lebih selektif memilih siapa yang layak didengar.

Cara memilihnya pun beda. Gen Z cenderung mengulik sendiri, cek isu yang diangkat, lihat respons saat dikritik, sampai menilai apakah seorang politisi benar-benar paham masalah atau cuma pintar framing. Mereka lebih tertarik pada yang terasa autentik daripada yang sekadar “terlihat baik”. Karena di tengah banjir informasi, yang dicari bukan lagi siapa yang paling sering muncul, tapi siapa yang paling masuk akal untuk dipercaya.

Dari Viral ke Valid, Nggak Semua yang Ramai Itu Layak Dipilih

Dulu, yang sering muncul di timeline sering otomatis dianggap paling “relevan”. Sekarang, Gen Z mulai sadar: viral itu bisa dibeli, bisa di-setting, bahkan bisa lewat hal receh yang nggak ada hubungannya sama kapasitas. Popularitas jadi dipandang sebagai pintu masuk, bukan penentu akhir.

Mulai banyak yang membedakan antara “terkenal” dan “kompeten”. Ada politisi yang jago bikin konten, tapi ketika ngomong substansi, kosong. Ada juga yang nggak terlalu viral, tapi kerjaannya nyata dan konsisten. Di titik ini, Gen Z mulai belajar menyaring, mana yang sekadar hiburan, mana yang benar-benar layak dipertimbangkan.

Artinya, proses memilih jadi lebih rasional, meski tetap santai. Nggak harus baca jurnal tebal, tapi cukup kritis melihat: ini orang viral karena apa? Kalau jawabannya cuma gimmick, biasanya langsung di-skip.

Rekam Jejak Lebih Penting dari Janji Campaign

Janji itu murah, bahkan kadang terlalu murah sampai semua orang bisa bikin versi terbaiknya sendiri. Tapi rekam jejak nggak bisa dimanipulasi semudah itu. Gen Z mulai melihat ke belakang: apa yang sudah pernah dikerjakan, bukan sekadar apa yang akan dilakukan.

Ini terlihat dari kebiasaan baru: stalking bukan lagi soal kehidupan pribadi, tapi soal kinerja. Pernah pegang jabatan apa, kebijakan apa yang dihasilkan, dan apakah ada dampak nyata. Bahkan hal kecil seperti konsistensi sikap di isu tertentu mulai diperhitungkan.

Karena pada akhirnya, memilih politisi itu bukan soal siapa yang paling meyakinkan saat kampanye, tapi siapa yang sudah terbukti bisa bekerja. Janji bisa berubah, tapi rekam jejak cenderung lebih jujur.

Autentik Itu Lebih Kuat dari Pencitraan

Gen Z punya radar yang cukup sensitif terhadap pencitraan yang terlalu dibuat-buat. Konten yang terlalu sempurna justru sering dicurigai. Sebaliknya, politisi yang tampil apa adanya (meski kadang kurang “rapi”) justru terasa lebih dekat dan dipercaya.

Bukan berarti harus selalu santai atau ikut tren, tapi ada kejujuran dalam cara berkomunikasi. Gimana mereka merespons kritik, mengakui kesalahan, atau menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang bisa dipahami. Di sini, kepercayaan dibangun bukan dari kesan, tapi dari interaksi yang terasa nyata.

Akhirnya, yang dicari bukan figur yang paling “wah”, tapi yang paling masuk akal untuk dipercaya. Karena di tengah banyaknya pilihan, autentisitas jadi pembeda, dan sering kali, itu yang menentukan siapa yang benar-benar dipilih, bukan cuma ditonton. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment