Komisi E DPRD DKI Jakarta soroti pendidikan di LKPJ 2025. Muhammad Lefi FPKB minta Disdik percepat akreditasi, awasi ketat pungli sekolah gratis, dan buat sistem lapor bullying yang aman.
PKBJakarta.ID | Jakarta ~ No cap, pendidikan Jakarta masih banyak PR! Komisi E DPRD DKI Jakarta kasih red flag ke Dinas Pendidikan soal LKPJ Gubernur 2025. Ada tiga poin yang disorot: mutu sekolah belum rata, sekolah gratis tapi masih ada biaya siluman, sama kasus bullying yang literally butuh ditangani serius.
Anggota Komisi E dari FPKB, Muhammad Lefi, spill fakta pahit ke PKBJakartaID usai Paripurna, Rabu 29 April. Target akreditasi A sekolah di Jakarta itu 84 persen. Realitanya? Baru 72,9 persen. Jauh banget.
“Kita masih menyaksikan kualitas pendidikan di Jakarta yang belum merata antar wilayah, serta antar satuan pendidikan, terutama sekolah-sekolah madrasah yang berada di bawah naungan Departemen Agama,” kata Lefi di ruang kerjanya, Gedung DPRD DKI.
Artinya, Disdik harus ngebut upgrade sekolah yang belum standar. Nggak bisa santai.
Program Sekolah Swasta Gratis: Gratis Beneran atau Gimmick?
Ini yang bikin orang tua relate. Lefi bilang, program sekolah swasta gratis masih aja ngebebanin ortu. Masih ada aja biaya operasional tambahan atau pungutan yang muncul tiba-tiba.
“Karena itu, perlu pengawasan ketat agar program tersebut seutuhnya bebas beban biaya bagi orangtua siswa,” tegasnya.
Dia minta ada mekanisme yang fix buat mastiin nggak ada biaya tersembunyi dengan dalih apapun. “Nggak boleh ada pungli ke ortu murid. Titik.”
Bullying di Sekolah: Harus Ada Sistem Lapor yang Aman
Soal bullying, Lefi bilang Disdik nggak boleh pasif. Harus ada sistem pelaporan yang aman buat korban dan perlindungan yang real, bukan cuma di atas kertas.
“Melalui Komisi E, kami mendorong dan merekomendasikan agar Dinas Pendidikan menyusun regulasi dan sanksi tegas mengenai penanganan perundungan di sekolah,” ujar Lefi.
Dia juga highlight pentingnya sistem lapor anonim yang gampang diakses, plus pendampingan psikologis yang nyambung buat korban. Sekolah harus jadi safe space, bukan tempat trauma. *AKH






Leave a Comment