Jakarta Terus Turun, Penurunan Tanah Disebut Lampaui Kenaikan Muka Laut

Photo by Pexels

Fenomena ini membuat risiko yang dihadapi warga pesisir Jakarta semakin kompleks. Ketika permukaan laut naik dan daratan turun secara bersamaan, ancaman banjir rob, genangan permanen, hingga kerusakan infrastruktur menjadi lebih sulit dihindari. Wilayah pesisir yang padat penduduk menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampaknya.

PKBJakartaID | Jakarta — Ancaman perubahan iklim selama ini lebih sering dikaitkan dengan kenaikan muka laut. Namun, sebuah penelitian internasional terbaru menunjukkan persoalan yang dihadapi sejumlah kota pesisir dunia tidak hanya datang dari laut yang terus meninggi, tetapi juga dari daratan yang perlahan turun. Jakarta menjadi salah satu kota yang mendapat perhatian khusus dalam penelitian tersebut.

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Jerman dan Amerika Serikat menemukan bahwa banyak wilayah pesisir di dunia mengalami fenomena penurunan permukaan tanah atau land subsidence. Kondisi ini membuat dampak kenaikan muka laut menjadi semakin besar karena daratan tempat masyarakat tinggal justru bergerak turun dari tahun ke tahun.

Penelitian yang dipimpin Julius Oelsmann dari German Geodetic Research Institute (DGFI-TUM) mencatat rata-rata kenaikan muka laut relatif di wilayah pesisir global mencapai sekitar 0,64 sentimeter per tahun. Namun di sejumlah kota besar, termasuk Jakarta, laju penurunan tanah bahkan lebih tinggi dibandingkan kenaikan muka laut itu sendiri.

Penurunan Tanah Jakarta Jadi Sorotan Peneliti

Dalam penelitian tersebut, Jakarta tercatat mengalami penurunan tanah rata-rata sekitar 1,3 sentimeter per tahun. Angka itu menempatkan ibu kota Indonesia sejajar dengan kota-kota pesisir lain yang menghadapi masalah serupa seperti Tianjin di Cina dan Bangkok di Thailand.

Yang menjadi perhatian, penurunan tanah di Jakarta tidak terjadi secara merata. Beberapa kawasan tercatat mengalami laju amblesan yang jauh lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 3,8 sentimeter per tahun. Sementara di wilayah lain, kondisi tanah relatif lebih stabil.

Fenomena ini membuat risiko yang dihadapi warga pesisir Jakarta semakin kompleks. Ketika permukaan laut naik dan daratan turun secara bersamaan, ancaman banjir rob, genangan permanen, hingga kerusakan infrastruktur menjadi lebih sulit dihindari. Wilayah pesisir yang padat penduduk menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampaknya.

Secara global, para peneliti memperkirakan sekitar 71 persen populasi yang tinggal di kawasan pesisir berada di wilayah yang terdampak kombinasi kenaikan muka laut dan penurunan tanah. Artinya, miliaran orang di berbagai negara menghadapi risiko yang sama meskipun dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Bagi Jakarta, persoalan ini bukan isu baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kawasan pesisir utara ibu kota kerap mengalami banjir rob yang semakin sering terjadi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan lingkungan yang dihadapi Jakarta membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengendalian banjir, tetapi juga pengelolaan kondisi tanah di bawah permukaan kota.

Pengambilan Air Tanah Jadi Faktor Utama

Penelitian tersebut juga mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan tanah di kota-kota pesisir dunia. Salah satu penyebab utama adalah pengambilan air tanah secara berlebihan.

Ketika air dipompa terus-menerus dari lapisan akuifer di bawah permukaan, struktur tanah di atasnya dapat mengalami pemadatan. Akibatnya, permukaan tanah perlahan turun dari waktu ke waktu. Fenomena ini banyak ditemukan di kota-kota besar dengan kebutuhan air yang tinggi dan ketergantungan terhadap sumber air tanah.

Selain eksploitasi air tanah, aktivitas produksi minyak dan gas juga dapat memicu penurunan tanah. Pengambilan fluida dari bawah permukaan bumi mengurangi tekanan alami yang menopang lapisan tanah, sehingga berpotensi menyebabkan amblesan.

Faktor lain berasal dari beban pembangunan perkotaan. Gedung bertingkat, kawasan industri, jalan raya, hingga berbagai infrastruktur besar memberikan tekanan tambahan pada tanah. Di wilayah delta seperti Jakarta, kondisi sedimen yang relatif lunak membuat proses pemadatan dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan daerah lain.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota pesisir harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Pengendalian penggunaan air tanah, penguatan sistem penyediaan air perpipaan, serta perencanaan tata ruang yang lebih adaptif menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko di masa depan.

Bagi Jakarta yang tengah bertransformasi menjadi kota global, tantangan penurunan tanah menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Sebab, ancaman terbesar bagi kota pesisir bukan hanya datang dari laut yang terus naik, melainkan juga dari daratan yang perlahan turun tanpa disadari.

*Achi Hartoyo

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment