Banyak dari kita masuk diskusi politik bukan buat cari kebenaran, tapi buat cari kemenangan. Makanya, begitu ada yang beda pendapat, refleksnya bukan dengerin, tapi nyari celah buat nyerang. Cancel culture jadi shortcut: daripada debat panjang, mending langsung “hapus” lawan dari percakapan.
PKBJakartaID | Jakarta ~ Awalnya, cancel culture muncul sebagai alat buat “menagih tanggung jawab”. Orang-orang yang punya privilege atau power akhirnya bisa dipertanyakan ucapannya. Ini penting, apalagi di negara yang kadang kritik formalnya mandek. Internet jadi ruang alternatif buat bersuara.
Masalahnya, lama-lama garis antara kritik dan penghakiman jadi blur. Nggak semua kesalahan punya bobot yang sama, tapi responsnya sering kayak semua dosa itu setara. Salah diksi sedikit langsung disamakan sama pelanggaran serius. Nggak ada ruang klarifikasi, apalagi belajar.
Yang lebih rawan, cancel culture sering berubah jadi ajang pelampiasan emosi. Orang nggak lagi fokus ke isu, tapi ke siapa yang bisa “dijatuhin” hari ini. Diskusi politik yang seharusnya bahas kebijakan, malah jadi sidang moral dadakan.
Ending-nya? Bukan solusi, tapi polarisasi.
Debat Bukan Buat Menang, tapi Buat Paham (tapi Kita Kebalik)
Banyak dari kita masuk diskusi politik bukan buat cari kebenaran, tapi buat cari kemenangan. Makanya, begitu ada yang beda pendapat, refleksnya bukan dengerin, tapi nyari celah buat nyerang. Cancel culture jadi shortcut: daripada debat panjang, mending langsung “hapus” lawan dari percakapan.
Padahal, debat yang sehat itu justru butuh ruang buat salah, revisi, dan berkembang. Kalau semua orang dituntut langsung sempurna, ya nggak akan ada proses belajar. Yang ada cuma dua kubu: yang merasa paling benar, dan yang dianggap salah total.
Kalau pola ini terus dibiarin, kita bakal punya generasi yang jago nyinyir tapi miskin dialog. Politik jadi sekadar konten, bukan proses berpikir. Dan ironisnya, di tengah kebisingan itu, suara yang benar-benar substantif malah tenggelam, kalah sama yang paling keras, bukan yang paling masuk akal. *ACH







Leave a Comment