Gen Z punya semua alatnya: akses informasi, platform, dan keberanian buat speak up. Tinggal satu yang sering kurang, ketahanan buat terus ngawal. Kalau suara kita cuma muncul pas rame, ya wajar kalau yang di atas juga santai. Tapi kalau kita konsisten, pelan-pelan pola itu bisa berubah.
PKBJakartaID | Jakarta ~ Setiap musim kampanye, janji politik datang kayak promo tanggal kembar: menarik, meyakinkan, dan kadang terlalu indah buat jadi kenyataan. Dari lapangan kerja, pendidikan murah, sampai hidup yang katanya bakal lebih sejahtera, semuanya terdengar seperti masa depan yang rapi tanpa cela. Tapi begitu pemilu lewat, realita sering kali nggak sehalus narasinya. Di titik ini, banyak anak muda cuma bisa ngeluh di timeline, tanpa benar-benar tahu harus berbuat apa.
Masalahnya bukan cuma di janji yang nggak ditepati, tapi juga di kita yang terlalu cepat pindah fokus. Gen Z dikenal vokal, tapi seringnya berhenti di level komentar dan repost. Padahal, demokrasi nggak berhenti di TPS. Justru setelah itu, peran warga (termasuk anak muda) jadi jauh lebih penting: mengawasi, mengkritik, dan memastikan janji tadi nggak cuma jadi arsip digital.
Pertanyaannya, kita mau tetap jadi penonton, atau mulai jadi “penonton yang berisik”?
Dari Timeline ke Tindakan, Berisik Itu Perlu, Asal Nggak Kosong
Di era digital, semua orang bisa bersuara. Satu tweet bisa viral, satu video bisa jadi bahan diskusi nasional. Tapi sayangnya, banyak suara berhenti di permukaan. Kita rame di awal, tapi cepat lupa di tengah jalan. Isu yang kemarin panas, hari ini sudah tenggelam sama tren baru.
Padahal, perubahan nggak datang dari viral semata. Butuh konsistensi buat terus ngingetin, terus nanya, dan terus “ganggu” wakil rakyat biar tetap kerja. Cerewet dalam konteks ini bukan berarti asal ribut, tapi tahu apa yang dikritik dan kenapa. Ada data, ada konteks, dan ada tujuan yang jelas.
Gen Z punya semua alatnya: akses informasi, platform, dan keberanian buat speak up. Tinggal satu yang sering kurang, ketahanan buat terus ngawal. Kalau suara kita cuma muncul pas rame, ya wajar kalau yang di atas juga santai. Tapi kalau kita konsisten, pelan-pelan pola itu bisa berubah.
Wakil Rakyat Itu Bukan Influencer, Tapi Tetap Perlu “Ditegur”
Sering kali kita memperlakukan politisi kayak figur jauh yang cuma muncul lima tahun sekali. Padahal, mereka itu wakil kita, yang harusnya kerja untuk kepentingan publik setiap hari. Masalahnya, tanpa tekanan dari masyarakat, akuntabilitas sering jadi longgar.
Di sinilah pentingnya jadi “cerewet” secara sehat. Nanya soal janji kampanye, ngecek progres kebijakan, sampai berani kritik kalau ada yang melenceng. Ini bukan bentuk kebencian, tapi justru bagian dari kontrol publik. Demokrasi yang sehat itu bukan yang sepi kritik, tapi yang penuh partisipasi.
Kalau Gen Z mau punya masa depan yang lebih relevan sama kebutuhan mereka, ya harus ikut nimbrung dalam prosesnya. Nggak cukup cuma jadi penonton yang sesekali tepuk tangan atau nyinyir. Karena pada akhirnya, janji manis atau realita pahit itu nggak cuma ditentukan sama mereka yang berkuasa, tapi juga sama seberapa berisik kita dalam mengawal. *ACH







Leave a Comment