Jakarta Mau Jadi Kota Global, Tapi Trotoar Masih Jadi Tempat Parkir

Photo by Pexels

PKBJakartaID | Jakarta — Jakarta belakangan rajin berdandan. Trotoar dipercantik, halte dibikin estetik, transportasi publik makin banyak dipakai, dan istilah “global city” mulai sering diucapkan pejabat seperti mantra pembangunan. Di Sudirman-Thamrin, orang bisa jalan kaki sambil ngopi, naik MRT, lalu unggah Instagram Story dengan caption: Jakarta core. Kota ini memang sedang berusaha terlihat modern.

Masalahnya, modernitas Jakarta sering berhenti di kawasan yang masuk drone video promosi. Begitu keluar sedikit dari jalan protokol, cerita berubah. Trotoar mendadak mengecil, putus tiba-tiba, dipakai parkir motor, jadi lapak jualan, atau malah dibongkar proyek utilitas tanpa jalur aman untuk pejalan kaki. Warga akhirnya kembali pada nasib lama: jalan sambil menghindari spion motor dan berharap tidak disenggol mobil. Kota global, tapi pejalan kaki masih seperti tamu yang numpang lewat.

Trotoar Jakarta: Bagus di Foto, Berat di Lapangan

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang cukup agresif membangun trotoar. Penelitian dari Jurnal Transportasi Universitas Katolik Parahyangan mencatat Pemprov DKI membangun sekitar 329 kilometer trotoar pada periode 2016–2019, terutama di kawasan Sudirman–Thamrin. Hasilnya bahkan dinilai memenuhi standar teknis kenyamanan dan aksesibilitas pejalan kaki.

Pemerintah juga terus melanjutkan program penataan trotoar melalui konsep Complete Street. Dinas Bina Marga DKI Jakarta menyebut penataan trotoar 2025 diarahkan untuk mendukung visi Jakarta sebagai kota global yang aman bagi semua pengguna jalan, termasuk pejalan kaki dan pengguna transportasi umum.

Namun problem kota ini memang klasik: pembangunan sering lebih cepat daripada perubahan budaya dan pengawasan. Trotoar yang sudah dibangun mahal-mahal tetap kalah oleh parkir liar, motor yang nyelonong, kabel proyek, hingga PKL yang mengambil badan jalan. Akibatnya, pengalaman jalan kaki di Jakarta sering terasa seperti survival game versi perkotaan.

Naik Transportasi Umum, Jalan Kakinya yang Menyerah

Transportasi publik Jakarta sebenarnya sedang tumbuh cukup serius. Jumlah pengguna MRT dan TransJakarta terus meningkat. Diskusi publik di Reddit bahkan mencatat TransJakarta melayani ratusan juta penumpang sepanjang 2025, sementara MRT konsisten membawa lebih dari seratus ribu penumpang per hari kerja.

Tapi ada satu masalah yang sering luput dibahas: setelah turun dari halte atau stasiun, warga tetap harus berjalan kaki. Dan di titik inilah banyak orang menyerah. Sebab trotoar Jakarta sering tidak benar-benar terhubung. Ada yang mendadak putus, menyempit hanya beberapa puluh sentimeter, atau malah berubah fungsi jadi jalan pintas motor.

Kasus di sekitar Grand Indonesia beberapa waktu lalu cukup menggambarkan situasinya. Trotoar di kawasan elite itu sempat menyisakan ruang sekitar 30–50 sentimeter akibat proyek galian. Warga akhirnya turun ke jalan raya karena merasa lebih mungkin selamat ketimbang bertahan di trotoar sempit. Pengamat tata kota Yayat Supriatna bahkan mengingatkan bahwa dalam hierarki transportasi modern, pejalan kaki seharusnya berada di prioritas utama.

Ironisnya, Jakarta sering mempromosikan transportasi publik tanpa benar-benar memuliakan pejalan kaki. Padahal dua hal itu tidak bisa dipisahkan. Tidak ada kota dengan transportasi publik hebat tetapi pejalan kakinya sengsara.

Kota Modern Itu Bukan Cuma Gedung Tinggi

Ada satu kebiasaan pembangunan kota di Indonesia: terlalu fokus pada kendaraan, terlalu sedikit memikirkan manusia. Jalan dilebarkan untuk mobil, flyover dibangun untuk mengurai macet, tapi ruang jalan kaki justru dianggap pelengkap. Akibatnya, berjalan kaki di Jakarta kadang terasa seperti aktivitas yang harus “dimaklumi”, bukan hak dasar warga kota.

Keluhan soal trotoar sebenarnya muncul terus di ruang publik. Di Reddit, banyak warga menggambarkan trotoar Jakarta seperti “arena rintangan”: dipenuhi parkir motor, pedagang, hingga tiang utilitas. Bahkan muncul candaan satir bahwa di Indonesia “motor jalan di trotoar, orang jalan di jalan raya.” Lucunya pahit karena terasa dekat dengan kenyataan sehari-hari.

Kalau Jakarta serius ingin menjadi kota global, ukurannya bukan cuma skyline dan gedung kaca. Kota modern seharusnya bisa membuat warganya merasa aman saat berjalan kaki sejauh 500 meter. Sebab wajah sebuah kota sebenarnya paling terlihat dari cara ia memperlakukan orang yang berjalan paling pelan. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment