Banyak orang mengira masalah transportasi publik hanya soal jumlah armada atau ketepatan jadwal. Padahal, pengalaman pengguna dimulai jauh sebelum pintu bus terbuka atau kereta datang di peron.
PKBJakartaID | Jakarta — Jakarta belakangan ini sedang rajin berbenah soal transportasi publik. Kereta semakin penuh, TransJakarta makin ramai, dan warga mulai terbiasa menghitung perjalanan berdasarkan jadwal MRT ketimbang kemacetan jalan raya. Di media sosial, naik transportasi umum bahkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup urban yang dianggap lebih praktis, hemat, dan tidak bikin stres karena harus berebut ruang dengan ribuan kendaraan pribadi.
Namun ada satu hal yang sering luput dari perbincangan: perjalanan menggunakan transportasi publik tidak dimulai saat seseorang naik bus atau kereta, melainkan sejak ia melangkah keluar dari rumah. Di titik inilah persoalan muncul. Banyak warga sebenarnya sudah mau meninggalkan kendaraan pribadi, tetapi akses menuju halte dan stasiun masih terasa seperti ujian kecil yang harus ditaklukkan setiap hari. Trotoar putus, penyeberangan jauh, parkir liar, hingga jalan yang tidak ramah bagi penyandang disabilitas menjadi hambatan yang membuat niat baik beralih ke transportasi umum sering kali kandas sebelum sampai tujuan.
Ketika Perjalanan Terberat Justru Terjadi Sebelum Naik Bus
Banyak orang mengira masalah transportasi publik hanya soal jumlah armada atau ketepatan jadwal. Padahal, pengalaman pengguna dimulai jauh sebelum pintu bus terbuka atau kereta datang di peron. Coba saja berjalan kaki menuju halte di beberapa kawasan Jakarta. Ada trotoar yang mendadak hilang, berubah menjadi area parkir motor, atau terpotong proyek yang tidak kunjung selesai.
Situasi ini membuat warga menghadapi dilema. Di satu sisi pemerintah mendorong penggunaan transportasi publik untuk mengurangi kemacetan dan polusi. Di sisi lain, akses menuju layanan tersebut belum sepenuhnya nyaman dan aman. Akibatnya, sebagian masyarakat tetap memilih membawa kendaraan pribadi karena merasa perjalanan dari rumah ke halte justru lebih merepotkan daripada menghadapi macet.
Padahal konsep transportasi modern tidak hanya berbicara soal kendaraan, melainkan juga konektivitas. Kota-kota yang berhasil meningkatkan penggunaan transportasi umum biasanya menyediakan jalur pejalan kaki yang nyaman, aman, teduh, dan mudah diakses. Warga tidak perlu berpikir dua kali untuk berjalan beberapa ratus meter menuju stasiun karena infrastrukturnya memang mendukung.
Jakarta sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah tersebut melalui pembangunan trotoar di sejumlah koridor utama. Namun pekerjaan rumahnya masih panjang. Masih banyak kawasan permukiman yang belum memiliki koneksi memadai menuju simpul transportasi publik. Selama akses awal dan akhir perjalanan belum diperbaiki, target meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum akan sulit tercapai secara maksimal.
Kota yang Ramah Pejalan Kaki Bukan Sekadar Bonus
Sering kali trotoar dipandang sebagai pelengkap pembangunan. Jika ada anggaran, dibangun. Jika tidak ada, bisa ditunda. Cara pandang seperti ini perlu diubah. Trotoar dan akses pejalan kaki seharusnya diposisikan sebagai bagian utama dari sistem transportasi kota.
Membangun halte baru memang penting, tetapi membangun jalan yang menghubungkan warga ke halte tersebut tidak kalah penting. Sebab tidak semua orang memiliki kendaraan untuk mencapai stasiun. Banyak pengguna transportasi publik adalah pelajar, pekerja, lansia, hingga penyandang disabilitas yang mengandalkan fasilitas pejalan kaki setiap hari.
Selain meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi umum, perbaikan akses pejalan kaki juga membawa manfaat lain. Lingkungan menjadi lebih hidup, aktivitas ekonomi lokal tumbuh, dan kualitas udara dapat membaik karena ketergantungan terhadap kendaraan pribadi berkurang. Dengan kata lain, investasi pada trotoar bukan hanya investasi transportasi, melainkan investasi kualitas hidup kota secara keseluruhan.
Meningkatnya minat warga menggunakan transportasi publik merupakan kabar baik bagi Jakarta. Namun momentum ini tidak boleh berhenti pada penambahan armada atau pembangunan stasiun semata. Jika pemerintah ingin semakin banyak warga meninggalkan kendaraan pribadi, maka perjalanan menuju halte dan stasiun harus dibuat senyaman mungkin.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan transportasi publik tidak hanya diukur dari seberapa cepat kereta melaju atau berapa banyak bus beroperasi. Kadang ukurannya sesederhana ini: apakah warga bisa berjalan menuju halte tanpa merasa sedang mengikuti lomba halang rintang.







Leave a Comment