Scrolling Politik Tiap Hari, Tapi Hidup Masih Gitu-Gitu Aja, yang Salah Kita atau Sistemnya?

Scrolling politik tiap hari sering bikin kita merasa sudah cukup peduli. Kita tahu isu terbaru, hafal nama tokoh, bahkan bisa debat panjang di kolom komentar. Tapi semua itu sering berhenti di layar. Kita jarang melangkah lebih jauh: ikut diskusi offline, terlibat di komunitas, atau sekadar memahami kebijakan secara utuh, bukan cuma dari potongan video.

PKBJakartaID | Jakarta ~ Kita hidup di zaman di mana politik terasa begitu dekat, terlalu dekat, bahkan. Setiap hari, jempol kita sibuk scrolling: dari debat panas di kolom komentar, potongan video sidang, sampai janji-janji manis yang dikemas rapi dalam konten satu menit. Tapi anehnya, semakin sering kita terpapar politik, hidup kita rasanya nggak ikut bergerak. Harga kebutuhan tetap naik, akses kerja masih susah, dan ruang hidup makin sempit. Lalu muncul pertanyaan yang nggak enak tapi penting: ini kita yang kurang gerak, atau memang sistemnya yang nggak memberi ruang?

Ada semacam ilusi partisipasi yang diam-diam meninabobokan. Kita merasa sudah “ikut andil” hanya dengan like, share, atau komentar pedas. Padahal, di luar layar, realitas berjalan dengan logika yang berbeda. Politik bukan cuma soal siapa yang trending, tapi siapa yang benar-benar punya kuasa dan bagaimana kuasa itu digunakan. Di titik ini, penting buat jujur: jangan-jangan kita terlalu sibuk jadi penonton, sementara sistem memang nyaman kalau kita tetap diam di posisi itu.

Ilusi Partisipasi, Aktif di Layar, Pasif di Dunia Nyata

Scrolling politik tiap hari sering bikin kita merasa sudah cukup peduli. Kita tahu isu terbaru, hafal nama tokoh, bahkan bisa debat panjang di kolom komentar. Tapi semua itu sering berhenti di layar. Kita jarang melangkah lebih jauh: ikut diskusi offline, terlibat di komunitas, atau sekadar memahami kebijakan secara utuh, bukan cuma dari potongan video.

Masalahnya, algoritma media sosial memang dirancang untuk bikin kita betah, bukan berdaya. Konten yang muncul seringkali yang paling emosional, paling memancing reaksi, bukan yang paling mendalam. Akibatnya, kita lebih sering marah atau kagum sesaat, tanpa benar-benar memahami akar masalah. Kita sibuk bereaksi, tapi jarang refleksi.

Di sinilah ilusi itu bekerja: kita merasa aktif, padahal sebenarnya hanya dikondisikan untuk tetap di tempat. Sistem digital memberi sensasi “ikut terlibat”, tapi tidak selalu membuka jalan untuk perubahan nyata. Kalau kita tidak sadar, kita akan terus merasa sudah cukup, padahal kontribusi kita belum menyentuh hal yang substansial.

Sistem yang Kompleks, Ketika Akses tidak Selalu Setara

Di sisi lain, tidak adil juga kalau semua kesalahan ditimpakan ke individu. Sistem politik memang tidak selalu ramah bagi semua orang. Akses terhadap informasi yang utuh, pendidikan politik, hingga peluang untuk benar-benar terlibat sering kali tidak merata. Banyak orang ingin berkontribusi, tapi tidak tahu harus mulai dari mana, atau bahkan tidak diberi ruang.

Struktur kekuasaan juga sering kali terasa jauh dan eksklusif. Proses pengambilan keputusan tidak transparan, jalur aspirasi terasa berbelit, dan representasi tidak selalu mencerminkan kebutuhan rakyat sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, wajar kalau sebagian orang memilih “cukup jadi penonton”, karena masuk ke dalam sistem terasa terlalu sulit atau bahkan mustahil.

Namun, menyalahkan sistem sepenuhnya juga bisa jadi jebakan lain. Karena pada akhirnya, sistem tidak berdiri sendir. Ia dibentuk, dijaga, dan bisa diubah oleh manusia. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah”, tapi “kita mau tetap di posisi sekarang, atau mulai cari celah untuk bergerak?”. Karena perubahan, sekecil apa pun, selalu dimulai dari keputusan untuk tidak lagi sekadar scrolling. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment