Naik transportasi umum itu bukan cuma soal sampai tujuan, tapi juga soal berbagi ruang. Artinya, ada aturan tak tertulis yang sebenarnya sederhana: saling menghargai.
PKBJakarta.ID | Jakarta ~ Setiap kali ada kecelakaan kereta, timeline langsung penuh. Dari yang serius sampai yang setengah bercanda, semua ikut nimbrung. Kita marah, kita khawatir, kita ikut berduka. Tapi beberapa hari kemudian, semuanya kembali normal. Kita balik lagi berdiri di peron, dorong-dorongan dikit, nyebrang jalur seenaknya, atau cuek sama garis aman.
Padahal, keselamatan itu bukan momen musiman yang muncul pas lagi ramai aja. Ia harus jadi kebiasaan yang nempel, kayak refleks. Karena pada akhirnya, transportasi publik itu bukan cuma soal sistem, tapi juga soal kita, cara kita bersikap, cara kita peduli, dan seberapa serius kita menjaga diri sendiri dan orang lain.
Kritis Itu Gampang, Konsisten Itu PR Bersama
Ngomongin keselamatan di media sosial itu gampang. Tinggal ketik, upload, selesai. Tapi yang sering hilang adalah kelanjutannya. Kita jarang benar-benar ngikutin isu sampai tuntas, apalagi mengubah kebiasaan sendiri.
Padahal, perubahan itu justru dimulai dari hal kecil yang diulang terus. Berdiri di belakang garis aman. Nggak maksa masuk kereta yang sudah penuh. Kedengeran sepele, tapi efeknya nyata.
Kalau kita cuma kritis di momen viral, ya hasilnya juga viral doang, rame sebentar, hilang. Tapi kalau kita konsisten, di situlah keselamatan mulai jadi budaya, bukan sekadar wacana.
Dari Peron ke Gerbong, Etika Itu Bukan Basa-basi
Naik transportasi umum itu bukan cuma soal sampai tujuan, tapi juga soal berbagi ruang. Artinya, ada aturan tak tertulis yang sebenarnya sederhana: saling menghargai.
Nggak dorong-dorongan, kasih jalan buat yang turun dulu, dan sadar kalau kita bukan satu-satunya orang yang lagi buru-buru. Kedengarannya basic, tapi justru ini yang sering dilanggar.
Etika ini penting, karena banyak risiko muncul bukan dari sistem yang gagal, tapi dari perilaku yang abai. Ketika semua orang merasa “cuma kali ini aja”, di situlah potensi bahaya mulai terbuka.
Keselamatan Itu Urusan Bareng, Bukan Cuma Operator
Sering kali kita berpikir, urusan aman atau tidaknya transportasi itu sepenuhnya tanggung jawab operator atau pemerintah. Padahal kenyataannya, pengguna juga punya peran besar.
Sistem yang baik tetap butuh pengguna yang sadar. Sebagus apa pun fasilitasnya, kalau dipakai dengan cara yang sembarangan, risikonya tetap ada. Jadi ini bukan soal saling menyalahkan, tapi saling melengkapi.
Di titik ini, penting juga ada dorongan dari kebijakan yang kuat dan pengawasan yang konsisten. Termasuk bagaimana aspirasi warga didengar dan dijadikan dasar perbaikan ke depan.
Fraksi PKB DPRD Jakarta percaya, keselamatan publik nggak bisa diserahkan pada kebiasaan lama atau keberuntungan semata. Harus ada sistem yang kuat, pengawasan yang jalan, dan kesadaran warga yang tumbuh bareng.
Kalau kita ingin perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi, maka kita juga perlu ikut terlibat, nggak cuma sebagai penumpang, tapi sebagai bagian dari perubahan. Karena transportasi yang baik, lahir dari kolaborasi semua pihak, termasuk kita. *ACH







Leave a Comment