M. Fuadi Luthfi, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari FPKB pun memahami langkah Pemprov DKI Jakarta yang berupaya melakukan pembasmian ikan sapu-sapu di daerah aliran sungai yang ada di Jakarta. Namun harus disertai dengan semangat untuk menjaga dan mengembalikan keseimbangan lingkungan, yang sudah lama terganggu, bukan sekadar bersih-bersih saja
PKBJakarta.ID | Jakarta ~ Jakarta itu unik. Sungainya penuh masalah, tapi solusinya kadang malah nambah masalah baru. Salah satunya: ikan sapu-sapu. Awalnya dikenal sebagai “cleaning service” alami di perairan, tapi di Jakarta, nasibnya agak tragis, dibasmi karena merusak ekosistem, tapi di saat yang sama, diam-diam ada saja yang menjual sebagai bahan baku makanan olahan.
Kasus penangkapan pedagang ikan sapu-sapu di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu jadi bukti bahwa persoalannya bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal logika publik yang kadang suka lompat jauh. Di satu sisi, pemerintah berusaha mengendalikan populasi ikan ini. Di sisi lain, ada yang melihatnya sebagai peluang ekonomi. Masalahnya: tidak semua yang bisa dijual itu layak dimakan.
Ekosistem Sungai, Ketika “Pembersih” Jadi Perusak
Ikan sapu-sapu bukan sekadar ikan biasa. Ia dikenal sebagai spesies invasif, punya kemampuan adaptasi tinggi, cepat berkembang biak, dan cenderung “menguasai” habitat. Di sungai-sungai Jakarta, kehadirannya justru mengganggu keseimbangan ekosistem.
Alih-alih membantu, ikan ini bisa menggeser populasi ikan lokal yang lebih penting secara ekologis. Mereka mengambil ruang, makanan, dan pada akhirnya bikin ekosistem jadi timpang. Sungai yang seharusnya jadi rumah bagi beragam spesies, pelan-pelan berubah jadi “wilayah kekuasaan” satu jenis ikan saja.
M. Fuadi Luthfi, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari FPKB pun memahami langkah Pemprov DKI Jakarta yang berupaya melakukan pembasmian ikan sapu-sapu di daerah aliran sungai yang ada di Jakarta. Namun harus disertai dengan semangat untuk menjaga dan mengembalikan keseimbangan lingkungan, yang sudah lama terganggu, bukan sekadar bersih-bersih saja.
“Jangan kemudian, setiap satu masalah diselesaikan, muncul masalah lain. Karena itu, ini harus diawasi dengan benar,”ujarnya kepada PKBJakartaID, Senin (27/4/2026).
Murah Bukan Berarti Aman, Bahaya di Balik Konsumsi
Di tengah kondisi ekonomi yang serba menekan, bahan pangan murah memang selalu punya pasar. Tapi ikan sapu-sapu bukan sekadar murah, dia juga berisiko. Hidup di perairan kotor membuat ikan ini berpotensi membawa bakteri dan zat berbahaya.
Karena itu, anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, pun sudah menegaskan hal ini: ikan sapu-sapu tidak layak konsumsi. Tapi tetap saja, ada yang mencoba mengolahnya jadi makanan, bahkan dijual dalam bentuk olahan seperti siomay. Di titik ini, masalahnya bukan cuma ekonomi, tapi juga etika.
Karena ketika keuntungan dikejar tanpa mempertimbangkan keamanan, yang jadi taruhan adalah kesehatan orang lain. Dan biasanya, yang terdampak justru masyarakat yang tidak punya banyak pilihan.
Antara Pembasmian dan Peredaran serta Pengawasan yang Bolong
Kasus lima pedagang yang diamankan Satpol PP di Sawah Besar menunjukkan satu hal: pengawasan kita masih punya celah. Di satu sisi, pemerintah melakukan penindakan. Di sisi lain, praktik ini bisa tetap berjalan sampai akhirnya ketahuan warga.
Ini artinya, kerja tidak bisa setengah-setengah. Kalau ikan ini memang dianggap berbahaya dan tidak layak konsumsi, maka pengawasannya juga harus konsisten. Tidak cukup hanya reaktif ketika ada laporan.
Kenneth juga menekankan pentingnya sinergi antar dinas, dari ketahanan pangan, kesehatan, sampai aparat penegak hukum. Tapi yang sering terlupa, peran masyarakat juga tidak kalah penting. Selama masih ada yang beli, akan selalu ada yang jual.
Pada akhirnya, cerita ikan sapu-sapu ini bukan cuma soal ikan. Ini soal bagaimana kita melihat hubungan antara lingkungan, ekonomi, dan kesehatan. Bahwa tidak semua yang terlihat sebagai solusi benar-benar menyelesaikan masalah. Dan kadang, yang terlihat sederhana (seperti “ikan murah”) bisa menyimpan persoalan yang jauh lebih kompleks. (ACH)







Leave a Comment