PKBJakartaID | Jakarta — Jakarta sedang bergerak menuju kota global. Infrastruktur dibangun, transportasi diperluas, kawasan bisnis tumbuh, dan teknologi mulai mengubah cara orang bekerja serta hidup di ibu kota. Tetapi di tengah perubahan besar itu, ada satu pertanyaan penting: apakah anak muda Jakarta akan menjadi pelaku utama masa depan, atau justru hanya menjadi penonton di kotanya sendiri?
Sekretaris Wilayah DPW PKB Jakarta, H. Mohammad Fauzi, menilai masa depan Jakarta tidak cukup hanya dibangun lewat beton dan gedung pencakar langit. Kota global membutuhkan generasi muda yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi disrupsi teknologi. Karena itu, PKB Jakarta mendorong kebijakan pendidikan yang lebih relevan dengan perubahan zaman, termasuk penguatan kurikulum adaptif, pendidikan vokasi, hingga perluasan beasiswa berbasis keterampilan hidup dan dunia kerja.
Tantangan Gen Z di Tengah Disrupsi Teknologi
Perubahan teknologi bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan banyak institusi pendidikan untuk beradaptasi. Kecerdasan buatan, otomatisasi, ekonomi digital, hingga perubahan pola kerja global mulai mengubah kebutuhan dunia kerja. Di sisi lain, masih banyak anak muda yang belum memiliki akses keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 20,31 persen anak muda usia 15–24 tahun di Indonesia masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, and Training), yaitu tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Angka ini menunjukkan masih besarnya kelompok anak muda yang berisiko tertinggal di tengah perubahan ekonomi digital.
Bagi PKB Jakarta, kondisi ini tidak boleh dianggap biasa. Jakarta sebagai kota global justru membutuhkan generasi muda yang memiliki daya saing tinggi. Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, maka bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan bisa berubah menjadi beban sosial di masa depan.
Kurikulum Adaptif untuk Kota Global
PKB Jakarta mendorong pengembangan kurikulum pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada hafalan dan teori, tetapi juga harus mampu membekali siswa dengan keterampilan praktis, kemampuan digital, kreativitas, hingga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan teknologi.
Pemerintah sendiri mulai menaruh perhatian pada penguatan pendidikan vokasi dan keterampilan kerja. Direktorat SMK Kemendikdasmen pada 2025 meluncurkan program pengembangan SMK untuk memperkuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri dan pasar global. Program ini diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang lebih kompeten dan siap kerja menghadapi Indonesia Emas 2045.
Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional memiliki tantangan yang lebih besar. Transformasi menuju kota global tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia. Dalam dokumen RPJMD DKI Jakarta, pembangunan manusia dan peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fondasi penting dalam arah pembangunan daerah. Karena itu, pendidikan harus mampu membaca masa depan, bukan sekadar mengejar ketertinggalan masa lalu.
Beasiswa Tidak Boleh Hanya Soal Biaya Sekolah
Menurut PKB Jakarta, perluasan akses pendidikan juga harus dilakukan melalui kebijakan beasiswa yang lebih progresif. Selama ini banyak bantuan pendidikan masih berfokus pada biaya sekolah formal. Padahal tantangan anak muda hari ini jauh lebih kompleks. Banyak generasi muda membutuhkan akses pelatihan vokasi, kursus digital, sertifikasi kerja, hingga pelatihan life skill agar mampu bersaing di dunia kerja modern.
Pemerintah pusat bahkan mulai mendorong perluasan beasiswa vokasi untuk siswa SMK, terutama yang diarahkan pada kebutuhan pasar kerja global. Program ini diharapkan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi anak muda Indonesia, termasuk sektor industri internasional.
PKB Jakarta menilai pendekatan seperti ini perlu diperluas di tingkat daerah. Anak muda dari keluarga kurang mampu harus memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, bukan hanya agar bisa sekolah, tetapi juga agar memiliki keterampilan hidup yang relevan dengan masa depan. Sebab kota global yang sehat bukan hanya kota yang modern secara fisik, melainkan kota yang memberi ruang bagi generasi mudanya untuk tumbuh, bersaing, dan menjadi pelaku utama perubahan. *ACH







Leave a Comment