Anak Muda Jakarta Sulit Punya Rumah, Kota Global untuk Siapa?

Photo by Pexels

Ada ironi yang makin terasa di Jakarta: kota ini membuka banyak pekerjaan, tapi tidak membuka cukup ruang untuk tinggal. Orang datang setiap pagi dari Bekasi, Depok, Tangerang, bahkan Karawang, lalu pulang larut malam setelah hidup habis di jalan. Jakarta jadi tempat mencari nafkah, bukan tempat hidup.

PKBJakartaID | Jakarta — Jakarta hari ini sibuk menjual mimpi tentang kota global. MRT makin panjang, trotoar makin rapi, kafe tumbuh di mana-mana, dan apartemen menjulang seperti lomba siapa paling dekat dengan langit. Tapi di bawah baliho kota modern itu, ada satu generasi yang diam-diam makin jauh dari kata “punya rumah”.

Anak muda Jakarta sekarang bukan cuma sulit membeli rumah. Banyak yang bahkan mulai sulit membayangkan kemungkinan untuk memilikinya. Gaji habis buat kos, transportasi, makan, cicilan, dan bertahan hidup sampai tanggal gajian berikutnya. Sementara harga properti terus bergerak naik seperti tahu diri bahwa kota ini memang dibangun bukan untuk dihuni, tapi untuk diperebutkan. Jakarta tumbuh cepat, tapi rasa memiliki terhadap kota ini justru makin mahal.

Kota Kerja, Bukan Kota Tinggal

Ada ironi yang makin terasa di Jakarta: kota ini membuka banyak pekerjaan, tapi tidak membuka cukup ruang untuk tinggal. Orang datang setiap pagi dari Bekasi, Depok, Tangerang, bahkan Karawang, lalu pulang larut malam setelah hidup habis di jalan. Jakarta jadi tempat mencari nafkah, bukan tempat hidup.

Hunian di pusat kota semakin terasa seperti barang mewah. Apartemen dekat transportasi publik dipasarkan dengan jargon TOD, sustainable living, hingga urban lifestyle. Tapi ketika harga unitnya menyentuh miliaran rupiah, konsep “dekat transportasi” akhirnya cuma bisa dinikmati kelompok tertentu. Kota yang katanya inklusif justru makin eksklusif.

Fenomena ini terlihat dari makin jauhnya jarak antara penghasilan dan harga hunian. Di sisi lain, backlog perumahan nasional disebut mencapai sekitar 15 juta unit pada 2025 menurut pernyataan Wakil Menteri PKP Fahri Hamzah. Artinya, kebutuhan rumah jauh lebih besar dibanding kemampuan negara maupun pasar untuk menyediakannya secara terjangkau.

Apartemen Banyak, tapi Tidak Ramah Anak Muda

Yang menarik, masalah Jakarta bukan sekadar kekurangan bangunan. Justru apartemen banyak yang kosong. Kompas melaporkan sekitar 45 ribu unit apartemen di Jakarta belum terjual. Masalahnya sederhana: unit tersedia, tapi daya beli masyarakat tidak sampai.

Banyak apartemen dibangun lebih sebagai instrumen investasi ketimbang tempat tinggal. Akibatnya, harga melambung jauh dari kemampuan kelas pekerja muda. Studio kecil dengan luas pas-pasan bisa dijual setara rumah tapak di pinggiran kota. Akhirnya anak muda terjebak dalam pilihan yang sama-sama melelahkan: tinggal jauh atau hidup dalam cicilan panjang.

Di media sosial dan forum internet, keresahan itu makin terbuka. Dalam diskusi Reddit soal apartemen Jakarta yang tak laku, banyak pengguna menyebut harga properti sudah “out of reach” untuk generasi muda. Ada juga yang mulai mempertanyakan apakah membeli rumah di Jabodetabek masih masuk akal secara ekonomi dibanding terus menyewa. Nada sinis itu muncul bukan karena anak muda malas membeli rumah, tapi karena mereka mulai sadar permainan kota ini memang mahal sejak awal.

Jakarta Perlu Hunian, Bukan Sekadar Pencitraan

Kalau Jakarta serius ingin menjadi kota global, maka ukuran keberhasilannya bukan cuma gedung tinggi atau trotoar estetik. Kota besar yang sehat adalah kota yang masih memungkinkan guru, pekerja kreatif, jurnalis, pegawai kantor, sampai anak muda biasa punya kesempatan tinggal layak dekat tempat kerja mereka.

Karena itu, kebijakan hunian terjangkau harus berhenti jadi jargon seminar. Pemerintah daerah perlu lebih agresif membangun hunian vertikal murah yang benar-benar terhubung transportasi publik, bukan menyerahkan seluruh urusan rumah kepada mekanisme pasar. Wacana pemanfaatan aset negara dan aset BUMD untuk hunian vertikal mulai muncul dan layak dipertimbangkan serius.

Jakarta tidak kekurangan gedung. Jakarta kekurangan rasa adil. Sebab kota yang baik bukan kota yang paling fotogenik di Instagram, melainkan kota yang masih memberi harapan bahwa warganya bisa hidup, tinggal, dan menua dengan layak di dalamnya. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment