Daging Kurban dan Ketahanan Pangan Warga Kota

Photo by Pexels

Di Jakarta, tekanan biaya hidup terasa lebih nyata. Data BPS DKI Jakarta menunjukkan sebagian besar pengeluaran rumah tangga masih terserap untuk kebutuhan konsumsi harian, terutama makanan. Pada kelompok masyarakat tertentu, proporsi belanja pangan bahkan masih mendominasi pengeluaran keluarga.

PKBJakartaID  I Jakarta — Jakarta selalu terlihat sibuk menjelang Iduladha. Lapak hewan kurban mulai bermunculan di pinggir jalan, masjid menyiapkan distribusi daging, dan warga ramai membicarakan harga sapi maupun kambing yang tahun ini kembali naik. Di tengah suasana itu, ada satu hal yang sering terlupakan: bagi sebagian warga kota, daging kurban bukan sekadar menu spesial tahunan, melainkan sumber pangan yang jarang mereka nikmati dalam keseharian.

Di kota dengan biaya hidup yang terus meningkat, Iduladha menjadi momentum sosial yang sangat penting. Ketika harga bahan pokok naik dan daya beli masyarakat tertekan, distribusi daging kurban menjadi bentuk nyata solidaritas sosial. Bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat saling menopang di tengah tekanan ekonomi perkotaan yang makin berat.

Ketika Harga Pangan Naik, Kurban Menjadi Bantuan Nyata

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang besar inflasi nasional dalam beberapa tahun terakhir. Harga pangan yang mudah bergejolak membuat pengeluaran rumah tangga masyarakat terus meningkat, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Di Jakarta, tekanan biaya hidup terasa lebih nyata. Data BPS DKI Jakarta menunjukkan sebagian besar pengeluaran rumah tangga masih terserap untuk kebutuhan konsumsi harian, terutama makanan. Pada kelompok masyarakat tertentu, proporsi belanja pangan bahkan masih mendominasi pengeluaran keluarga.

Karena itu, distribusi daging kurban memiliki dampak sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar tradisi tahunan. Bagi banyak keluarga, momen Iduladha menjadi kesempatan untuk mendapatkan asupan protein hewani yang mungkin jarang mereka konsumsi. Di tengah harga daging yang tidak murah, kurban membantu menjaga akses pangan masyarakat kecil di kota besar.

Kota Global tidak Boleh Kehilangan Empati Sosial

Jakarta sedang bergerak menjadi kota global dengan pembangunan infrastruktur, kawasan bisnis modern, dan ekonomi digital yang tumbuh cepat. Namun pembangunan kota seharusnya tidak hanya diukur dari tingginya gedung atau luasnya jalan tol. Kota yang sehat juga diukur dari kemampuan warganya untuk saling menjaga dan berbagi.

Iduladha mengingatkan bahwa solidaritas sosial tetap menjadi fondasi penting kehidupan kota. Ketika kesenjangan ekonomi makin terasa, budaya berbagi seperti kurban menjadi penanda bahwa masyarakat belum kehilangan rasa peduli terhadap sesama. Di tengah kehidupan urban yang makin individual, momen ini menghadirkan kembali semangat gotong royong yang mulai jarang terlihat.

Fraksi PKB Jakarta memandang ketahanan pangan warga kota tidak bisa hanya dibebankan kepada mekanisme pasar. Pemerintah daerah perlu memperkuat akses pangan murah, menjaga stabilitas harga bahan pokok, dan mendukung distribusi bantuan pangan yang tepat sasaran. Sebab kota yang maju bukan hanya yang modern secara fisik, tetapi juga yang mampu memastikan warganya tetap bisa hidup layak dan makan dengan cukup.

Iduladha Harus Menjadi Momentum Keadilan Sosial

Makna terbesar kurban sebenarnya bukan pada seberapa besar hewan yang disembelih, melainkan seberapa luas manfaat yang dirasakan masyarakat. Iduladha mengajarkan bahwa kesejahteraan sosial tidak boleh berhenti di ruang simbolik atau seremoni tahunan. Nilai berbagi harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.

Di Jakarta hari ini, masih banyak pekerja informal, buruh harian, pengemudi ojek online, hingga lansia yang hidup dengan kondisi ekonomi serba terbatas. Mereka adalah kelompok yang paling rentan menghadapi kenaikan harga pangan. Karena itu, semangat kurban seharusnya juga menjadi pengingat bahwa negara harus hadir melindungi kelompok rentan, bukan hanya hadir saat perayaan.

Momentum Iduladha penting dijadikan refleksi bersama bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. Sebab pada akhirnya, kota yang baik bukan hanya yang mampu tumbuh cepat, tetapi yang memastikan tidak ada warganya merasa tertinggal di tengah pertumbuhan itu. *Achi Hartoyo

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment