Gen Z Jakarta dan Krisis Kerja, Lulusan Banyak, Peluang Sedikit

Photo by Pexels

Anak muda Jakarta sekarang hidup di era ketika satu lowongan kerja bisa diperebutkan ribuan pelamar. Ironisnya, banyak perusahaan mencari kandidat “fresh graduate” tapi dengan syarat pengalaman minimal dua tahun.

PKBJakartaID  I Jakarta — Jakarta selalu dijual sebagai kota penuh kesempatan. Gedung tinggi tumbuh cepat, coffee shop buka di mana-mana, startup berlomba bikin aplikasi baru, dan LinkedIn penuh motivasi tentang “kesempatan emas di era digital”. Tapi di balik semua itu, banyak anak muda Jakarta justru sedang hidup dalam mode bertahan. Lulus kuliah tidak otomatis dapat kerja. Punya kerja pun belum tentu cukup untuk hidup tenang di ibu kota.

Generasi muda hari ini menghadapi situasi yang agak absurd. Di satu sisi mereka dituntut serba cepat, multitasking, kreatif, melek AI, bisa public speaking, jago editing, ngerti data, dan fleksibel 24 jam. Tapi di sisi lain, lowongan kerja makin sempit, persaingan makin brutal, dan biaya hidup Jakarta terus naik tanpa permisi. Akhirnya banyak anak muda merasa seperti sedang ikut lomba maraton, tapi garis finisnya terus dipindah.

Skill Tinggi, tapi Lowongan tidak Ramah Anak Muda

Anak muda Jakarta sekarang hidup di era ketika satu lowongan kerja bisa diperebutkan ribuan pelamar. Ironisnya, banyak perusahaan mencari kandidat “fresh graduate” tapi dengan syarat pengalaman minimal dua tahun. Belum lagi tuntutan skill yang makin panjang seperti desain, AI tools, marketing digital, sampai kemampuan analisis data. Akhirnya banyak anak muda merasa kurang terus, bahkan sebelum memulai.

Fenomena ini membuat banyak lulusan muda mengalami krisis percaya diri. Media sosial ikut memperparah keadaan. Timeline dipenuhi orang-orang yang terlihat sukses di usia muda, sementara sebagian lainnya masih sibuk kirim CV setiap hari tanpa balasan. Tekanan sosial ini diam-diam bikin banyak anak muda lelah secara mental, meski jarang dibicarakan secara serius.

Padahal persoalannya bukan semata anak muda kurang bekerja keras. Ada ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang berubah terlalu cepat. Karena itu, pelatihan kerja berbasis teknologi, ruang kreatif anak muda, dan akses pengembangan skill murah menjadi penting. Di titik ini, negara dan pemerintah daerah tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan zaman.

Kota Global Jangan Sampai Mengusir Generasi Mudanya

Jakarta sedang bergerak menjadi kota global. Transportasi dibangun, kawasan bisnis diperluas, dan ekonomi digital tumbuh cepat. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah anak muda Jakarta ikut dibawa naik, atau justru tertinggal di pinggir jalan pembangunan?

Hari ini banyak anak muda bekerja keras hanya untuk bertahan hidup. Gaji habis untuk transportasi, kos, makan, dan kebutuhan harian. Punya rumah terasa seperti mimpi jauh. Bahkan sekadar punya waktu istirahat pun mulai menjadi kemewahan. Tidak sedikit yang akhirnya merasa Jakarta makin modern, tapi juga makin melelahkan.

Karena itu pembangunan kota seharusnya tidak hanya soal beton dan gedung tinggi. Kota yang sehat adalah kota yang memberi ruang tumbuh bagi generasi mudanya. Mulai dari akses kerja yang lebih adil, pelatihan UMKM kreatif, coworking space murah, sampai dukungan bagi pekerja informal dan freelance yang jumlahnya terus meningkat di era digital.

Anak Muda Butuh Kesempatan, Bukan Sekadar Motivasi

Generasi muda sebenarnya tidak kekurangan semangat. Mereka kreatif, cepat belajar, dan adaptif terhadap teknologi baru. Masalahnya, banyak dari mereka hanya diberi motivasi tanpa benar-benar diberi jalan. Seminar tentang “sukses di usia muda” mungkin ramai, tapi tanpa akses pelatihan dan peluang nyata, semuanya berhenti jadi konten media sosial.

Di tengah kondisi ini, pendekatan yang lebih membumi menjadi penting. Anak muda tidak selalu butuh janji besar. Mereka lebih membutuhkan kebijakan yang terasa dekat: pelatihan digital gratis, dukungan untuk usaha kecil, akses modal kreatif, hingga ruang aman untuk mengembangkan ide dan komunitas. Hal-hal sederhana seperti ini justru bisa memberi dampak nyata.

Fraksi PKB Jakarta melihat bahwa masa depan kota tidak bisa dilepaskan dari masa depan generasi mudanya. Karena itu, dorongan terhadap pendidikan vokasi, penguatan UMKM kreatif, pelatihan berbasis teknologi, dan perluasan akses kerja bagi anak muda harus menjadi bagian penting dari arah pembangunan Jakarta ke depan. Sebab kota global yang baik bukan hanya yang megah dilihat dunia, tapi juga yang membuat anak mudanya merasa punya masa depan. *Achi Hartoyo

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment