“Harus terus diupayakan edukasi utilitas kabel listrik yang benar agar tidak memicu korsleting dan menimbulkan kebakaran. Ini penting karena banyak warga kadang tidak sadar risiko penggunaan kabel yang sudah tidak layak atau sambungan listrik bertumpuk,” ujar Fauzi.
PKBJakartaID | Jakarta — Kebakaran kembali melanda kawasan permukiman padat penduduk di Jakarta. Kali ini, api menghanguskan sejumlah rumah warga di Jalan Warakas V Gang 15 RT 010 RW 012, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu malam, 27 Mei 2026.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.52 WIB itu berdampak pada lima unit rumah tinggal permanen, satu gudang rongsok milik pengepul, serta tiga kendaraan roda dua. Sedikitnya lima kepala keluarga dengan total 20 jiwa terpaksa mengungsi sementara ke Rumah Majelis Quran Mahkota yang berada di dekat Mushola Al Amin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama sejumlah unsur gabungan langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan, pendataan pengungsi, hingga distribusi bantuan logistik. Bantuan yang disalurkan meliputi terpal, air mineral, selimut, family kit, dan makanan ringan bagi warga terdampak.
Menanggapi peristiwa tersebut, Sekretaris Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) DKI Jakarta, Mohammad Fauzi, menilai kebakaran di kawasan padat penduduk telah menjadi persoalan yang terus berulang di Jakarta dan perlu dicari akar masalahnya secara serius.
Menurut dia, penanganan kebakaran tidak bisa hanya berhenti pada tahap pemadaman dan bantuan pascakejadian. Pemerintah daerah perlu memperkuat aspek pencegahan, terutama di kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi dan akses jalan yang sempit.
“Problem kebakaran di permukiman padat ini terus terulang hampir setiap tahun. Karena itu, akar masalahnya harus benar-benar dibedah, mulai dari instalasi listrik, tata bangunan, sampai kesiapan alat pemadam di lingkungan warga,” kata Fauzi, Kamis, 28 Mei 2026.
Edukasi Instalasi Listrik Dinilai Masih Lemah
Fauzi menyoroti pentingnya edukasi mengenai utilitas kabel dan instalasi listrik yang aman di lingkungan permukiman padat. Ia menilai banyak kebakaran di Jakarta dipicu oleh korsleting listrik akibat instalasi yang tidak sesuai standar atau penggunaan sambungan kabel yang berlebihan.
Menurut dia, edukasi semacam itu harus dilakukan secara aktif dan berkelanjutan, bukan hanya ketika terjadi musibah besar. Pemerintah, kata dia, dapat melibatkan pengurus RT/RW, kader lingkungan, hingga komunitas warga dalam sosialisasi keselamatan kelistrikan.
“Harus terus diupayakan edukasi utilitas kabel listrik yang benar agar tidak memicu korsleting dan menimbulkan kebakaran. Ini penting karena banyak warga kadang tidak sadar risiko penggunaan kabel yang sudah tidak layak atau sambungan listrik bertumpuk,” ujarnya.
Selain edukasi, Fauzi juga menilai perlunya pemetaan wilayah rawan kebakaran berbasis kepadatan penduduk dan kondisi lingkungan. Kawasan dengan bangunan berhimpitan, jaringan kabel semrawut, serta akses terbatas perlu mendapatkan perhatian lebih dalam program mitigasi bencana.
Ia mengatakan langkah pencegahan akan jauh lebih efektif dibanding penanganan setelah api membesar. Terlebih, kebakaran di permukiman padat kerap membuat api cepat merembet dari satu rumah ke rumah lain dalam waktu singkat.
Dalam kejadian di Warakas, api diketahui melanda area yang memiliki gang sempit dan bangunan berdekatan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam ketika melakukan proses pemadaman maupun evakuasi warga.
Fasilitas Pemadam di Gang Sempit Perlu Diperkuat
Selain persoalan instalasi listrik, Fauzi juga menyoroti pentingnya ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) dan fasilitas penanggulangan kebakaran di tingkat lingkungan. Menurut dia, keberadaan APAR di kawasan padat penduduk masih sangat terbatas.
Ia mendorong agar fasilitas pemadam kebakaran yang dapat menjangkau gang-gang sempit terus diperbarui dan menjadi bagian dari program pencegahan aktif pemerintah daerah.
“Ketersediaan APAR dan fasilitas pemadam kebakaran di setiap wilayah yang menjangkau gang sempit harus terus di-update dan dijadikan bagian dari program pencegahan aktif,” katanya.
Meski demikian, Fauzi mengapresiasi kesigapan petugas pemadam kebakaran dan unsur gabungan yang bergerak cepat menangani kebakaran di Warakas. Ia menilai respons cepat petugas membantu mencegah dampak yang lebih besar di tengah padatnya kawasan permukiman.
“Petugas pemadam kebakaran sudah bekerja sigap dan taktis. Ini patut diapresiasi karena situasi di lapangan tidak mudah,” ujar dia.
Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran itu antara lain BPBD DKI Jakarta, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, Satpol PP, Tagana, perangkat kelurahan, PPSU, PLN, PMI Jakarta Utara, hingga tokoh masyarakat setempat.
BPBD DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat segera menghubungi layanan darurat Jakarta Siaga 112 apabila menemukan atau mengalami kondisi kegawatdaruratan.
Fauzi berharap kejadian di Warakas dapat menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran di Jakarta masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Menurut dia, pembangunan kota tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur besar, tetapi juga harus menyentuh aspek keselamatan dasar warga di permukiman padat. *Achi Hartoyo







Leave a Comment