Dari 200 ke 900-an Suara, Cerita DPC PKB Kepulauan Seribu yang Nggak Cuma Datang Pas Pemilu

Ketua DPC PKB Kepulauan Seribu Dedi
Ketua DPC PKB Kepulauan Seribu, Dedi - FOTO | Dok. PKBJakartaID

“Bagi kami, politik bukan sekadar tentang kekuasaan atau angka-angka suara. Politik adalah tentang kehadiran, tentang bagaimana kita benar-benar ada di tengah masyarakat,” ujar Dedi Ketua DPC PKB Kepulauan Seribu. Dari 200-an ke 900-an suara, ceritanya bukan cuma soal menang, tapi soal akhirnya dipercaya.

PKBJakartaID | Jakarta ~ Di tengah riuhnya politik yang sering diukur dari baliho dan trending topic, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kepulauan Seribu, justru datang dengan cerita yang lebih sunyi tapi terasa: kerja pelan-pelan yang akhirnya kelihatan hasilnya. Itu terasa dalam gelaran Muscab DPC PKB Kepulauan Seribu yang digelar di Hotel Aston Pluit, Jakarta pada 19/4, ketika laporan pertanggungjawaban bukan cuma formalitas tahunan, tapi jadi momen buat nunjukin bahwa politik bisa hadir lebih dekat, nggak cuma pas butuh suara, tapi juga saat warga butuh ditemani.

Ketua DPC PKB Kepulauan Seribu, Dedi, menyampaikan bahwa lonjakan suara di Pemilu 2024 (yang naik drastis dibanding 2019) bukan sekadar angka, tapi cermin kepercayaan yang pelan-pelan dibangun. “Bagi kami, politik bukan sekadar tentang kekuasaan atau angka-angka suara. Politik adalah tentang kehadiran, tentang bagaimana kita benar-benar ada di tengah masyarakat,” ujarnya. Dari 200-an ke 900-an suara, ceritanya bukan cuma soal menang, tapi soal akhirnya dipercaya.

Dari Suara Kecil ke Lonjakan Besar, Tapi Nggak Ujug-ujug

Lonjakan suara Partai Kebangkitan Bangsa di Kepulauan Seribu dari ratusan ke hampir seribuan bukan cerita instan ala “tiba-tiba viral”. Di Muscab DPC PKB Kepulauan Seribu, capaian itu justru dipaparkan sebagai hasil dari kerja yang cenderung sepi: konsolidasi internal, rapihin struktur sampai ke bawah, dan memastikan kader nggak cuma aktif pas musim kampanye.

Ketua DPC, Dedi, juga menegaskan bahwa angka itu bukan milik satu dua orang. Ada kerja kolektif yang seringkali nggak kelihatan, tapi justru jadi fondasi. Dari rapat kecil sampai turun langsung ke pulau-pulau, semua jadi bagian dari proses panjang yang akhirnya kebaca di hasil Pemilu 2024.

Yang menarik, mereka sadar betul bahwa kenaikan suara bukan garis finish. Justru itu alarm baru: kalau kepercayaan sudah naik, ekspektasi juga ikut naik. Dan di titik ini, kerja politik nggak bisa lagi setengah-setengah atau sekadar simbolik.

Politik Nggak Cuma Datang, Tapi Tinggal dan Dengerin

Di forum Muscab itu juga, satu benang merah yang terus diulang adalah soal “kehadiran”. Bukan hadir secara seremonial, tapi hadir secara nyata, dari kegiatan sosial sampai sekadar duduk bareng warga di pulau terluar seperti Sabira. Politik, dalam versi mereka, bukan soal seberapa sering muncul di panggung, tapi seberapa sering benar-benar nyambung dengan kebutuhan warga.

Dedi menyebut, “politik adalah tentang kehadiran,” dan kalimat itu bukan sekadar pemanis pidato. Itu diterjemahkan lewat kegiatan konkret: bantuan sosial, pemeriksaan kesehatan gratis, sampai dialog langsung dengan masyarakat. Hal-hal yang mungkin nggak selalu viral, tapi justru relevan buat kehidupan sehari-hari warga.

Masalahnya, menjaga kehadiran itu jauh lebih sulit daripada sekadar datang sesekali. Konsistensi sering jadi titik lemah banyak partai. Makanya, tantangan berikutnya buat Partai Kebangkitan Bangsa Kepulauan Seribu bukan lagi soal membuktikan bisa hadir, tapi membuktikan bisa terus ada, bahkan ketika lampu politik lagi nggak terlalu terang. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment