Golok Dikeluarin, Tapi Bukan Buat Ribut, Muscab PKB Jaksel Opening-nya Pakai Palang Pintu, Bukan PowerPoint

Foto dokpri

Di balik golok, pantun, dan jurus-jurus Betawi itu, ada pesan yang cukup dalam: politik nggak boleh lepas dari akar budaya.

PKBJakartaID | Jakarta ~ Jakarta tuh kadang suka kebut banget ngejar modernitas, gedung tinggi, kafe estetik, sampai politik yang makin “rapi” kayak presentasi PowerPoint. Tapi di Musyawarah Cabang (Muscab) DPC PKB Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026), ada yang beda dari biasanya. Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Hasbiallah Ilyas, malah “dihadang” golok pas mau masuk venue di Hotel Amarosa, Cipete. Tenang, ini bukan plot twist politik atau konflik internal, ini palang pintu, tradisi Betawi yang justru jadi opening paling nyentrik sekaligus berkelas.

Di tengah acara politik yang biasanya kaku dan penuh formalitas, PKB Jaksel justru buka panggung dengan pendekar, pantun, dan seni bela diri khas Betawi. Bukan sekadar hiburan pembuka, tapi statement: bahwa politik nggak harus kehilangan rasa lokalnya. Di saat banyak yang sibuk ngomongin masa depan Jakarta, PKB coba ngajak balik sejenak, ngingetin kalau identitas budaya itu bukan beban, tapi fondasi yang bikin politik jadi lebih dekat dan “kena” ke masyarakat.

Golok di Depan, Pesan di Dalam
Atraksi palang pintu yang “menghadang” Hasbiallah Ilyas bukan sekadar gimmick biar acara nggak flat. Di balik golok, pantun, dan jurus-jurus Betawi itu, ada pesan yang cukup dalam: politik nggak boleh lepas dari akar budaya. PKB Jakarta sadar, di kota yang terus berubah kayak Jakarta, identitas lokal sering jadi korban paling awal dari modernisasi yang terlalu ngebut.

Makanya, menghadirkan budaya di panggung Muscab jadi semacam reminder halus tapi ngena. Bahwa sebelum ngomongin strategi besar dan target kursi, ada hal yang nggak kalah penting: menjaga rasa. Karena kalau politik kehilangan konteks budaya, dia gampang jadi dingin, nggak relate, nggak nyampe, dan ujung-ujungnya cuma jadi jargon.

Dari Tradisi ke Target Kursi
Walau dibuka dengan nuansa budaya, isi Muscab tetap serius: konsolidasi dan target politik. Hasbiallah Ilyas dengan tegas ngegas target dari 2 kursi jadi minimal 4 kursi di 2029. Bukan sekadar ambisi, tapi sinyal kalau PKB Jaksel lagi pengen naik level, dari sekadar eksis jadi lebih dominan.

Tapi yang menarik, target ini nggak dilepas begitu aja tanpa arah. Ada penekanan soal “politik kehadiran”, kader diminta nggak cuma muncul pas kampanye, tapi beneran hadir di tengah masyarakat. Bahasa gampangnya: jangan cuma rajin pas butuh suara, tapi juga konsisten pas warga lagi butuh solusi.

Anak Muda, Lingkungan, dan Identitas 

PKB Jaksel juga keliatan lagi nyusun positioning baru yang lebih “Gen Z friendly”. Mulai dari rencana bikin rumah aspirasi anak muda, sampai dorongan isu lingkungan lewat konsep green party. Ini langkah yang cukup realistis, mengingat anak muda sekarang nggak cuma peduli politik, tapi juga isu yang lebih luas kayak sustainability dan ruang berekspresi.

Di sisi lain, mereka nggak ninggalin akar budaya. Justru kombinasi antara anak muda, lingkungan, dan budaya ini jadi paket yang cukup unik. Kayak bilang: lo boleh modern, boleh progresif, tapi jangan lupa siapa lo dan dari mana lo berasal. Karena di Jakarta, jadi relevan itu penting, tapi punya identitas, itu yang bikin beda. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment