Anak Masuk Pesantren Biar Jadi Saleh, Orang Tua Malah Dipaksa Belajar soal “Safe House”

Photo by Pexels

Harus diakui, pesantren tetap punya tempat istimewa di masyarakat Indonesia. Data Kementerian Agama menunjukkan jumlah pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 39 ribu lembaga dengan jutaan santri yang belajar di dalamnya. Pesantren bukan cuma tempat belajar agama, tapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian anak.

PKBJakartaID — Dulu, kekhawatiran terbesar orang tua saat melepas anak mondok mungkin cuma dua: anak betah atau nggak, dan makanannya cocok atau nggak. Sekarang daftar cemasnya bertambah panjang. Mulai dari perundungan, kekerasan fisik, sampai kekerasan seksual yang belakangan makin sering muncul ke permukaan. Ironisnya, kasus-kasus itu sering terjadi di tempat yang selama ini dianggap paling aman untuk pendidikan moral.

Kasus dugaan kekerasan seksual di pesantren Pati kembali bikin banyak orang tua deg-degan. Bukan karena pesantren tiba-tiba jadi tempat menyeramkan, tapi karena publik mulai sadar satu hal penting: institusi pendidikan agama juga bisa punya celah kekuasaan yang berbahaya kalau tidak diawasi. Apalagi ketika pelakunya adalah orang yang dianggap “ustaz”, “guru”, atau “pengasuh” yang omongannya nyaris nggak pernah dibantah.

Banyak Orang Tua Masih Memilih Pesantren karena Memang Punya Nilai Besar

Harus diakui, pesantren tetap punya tempat istimewa di masyarakat Indonesia. Data Kementerian Agama menunjukkan jumlah pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 39 ribu lembaga dengan jutaan santri yang belajar di dalamnya. Pesantren bukan cuma tempat belajar agama, tapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian anak.

Banyak anak yang justru tumbuh lebih matang setelah mondok. Bangun pagi sendiri, belajar hidup sederhana, jauh dari gadget berlebihan, sampai belajar menghormati orang lain. Di tengah zaman yang serba cepat dan individualistis, banyak orang tua merasa pesantren masih jadi salah satu benteng pendidikan karakter yang paling masuk akal.

Masalahnya, sebagian orang tua kadung menyerahkan semuanya ke lembaga. Begitu anak masuk pesantren, urusan dianggap selesai. Padahal anak yang tinggal di asrama tetap butuh pengawasan, komunikasi, dan rasa aman. Mondok bukan berarti orang tua boleh pensiun jadi orang tua.

Relasi “Takut Sama Guru” Kadang Malah Jadi Masalah

Di banyak pesantren, kultur hormat kepada guru memang sangat kuat. Itu sebenarnya bagus. Tapi dalam beberapa kasus, budaya hormat berubah jadi budaya takut. Anak tidak berani bicara karena khawatir dianggap melawan ustaz, durhaka, atau “kurang adab”.

Di titik inilah relasi kuasa jadi berbahaya. Anak-anak yang mengalami kekerasan sering bingung harus mengadu ke siapa. Mereka takut tidak dipercaya. Lebih parah lagi kalau lingkungan sekitar justru sibuk menjaga nama baik lembaga daripada mendengarkan korban.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) beberapa kali menyoroti kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan berbasis asrama karena korban cenderung terisolasi dan sulit mendapat akses bantuan cepat. Banyak kasus baru terbongkar setelah berlangsung lama karena korban memilih diam. Bukan karena tidak mau bicara, tapi karena tidak punya ruang aman.

Orang Tua Sekarang Nggak Bisa Cuma Tanya “Biaya SPP Berapa?”

Kalau dulu survei pesantren cukup lihat bangunan dan jadwal ngaji, sekarang orang tua harus lebih cerewet. Pertanyaan pentingnya bukan cuma “hafalan anak kuat nggak?”, tapi juga “sistem perlindungan anaknya ada nggak?”

Pesantren yang sehat seharusnya punya mekanisme pengaduan yang jelas, aturan interaksi pengajar dan santri, pengawasan asrama, hingga akses pendampingan psikologis. Orang tua juga perlu memperhatikan apakah pengelola pesantren terbuka terhadap kritik atau justru defensif setiap ada masalah. Tempat yang anti kritik biasanya lebih rawan menyimpan persoalan.

Yang paling penting: jangan putus komunikasi sama anak. Banyak orang tua terlalu cepat bilang, “Kamu harus betah, jangan manja.” Padahal bisa saja anak sedang mencoba memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Anak perlu tahu bahwa pulang, bercerita, atau mengeluh bukan dosa.

Pada akhirnya, pesantren tetap bisa jadi tempat terbaik untuk membangun masa depan anak. Tapi zaman sudah berubah. Orang tua juga harus berubah. Sekarang, memilih sekolah bukan cuma soal kualitas pendidikan agama, tapi juga soal siapa yang benar-benar bisa menjaga anak tetap aman saat jauh dari rumah. *Achi Hartoyo

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment