Psikolog sekaligus Wakil Sekretaris DPW PKB DKI Jakarta, Mia Silmiah Sazely, menilai keterbukaan berbagai perilaku yang sebelumnya dianggap tabu tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, masyarakat modern cenderung lebih terbuka terhadap berbagai perbedaan sekaligus semakin cepat beradaptasi dengan perubahan yang muncul di ruang publik maupun media sosial.
PKBJakartaID | Jakarta — Di era digital, informasi datang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk memahaminya secara utuh. Berbagai topik yang dahulu dianggap sensitif kini dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui media sosial. Mulai dari kesehatan reproduksi, perubahan bentuk tubuh, hingga persoalan identitas diri menjadi bagian dari arus informasi yang setiap hari dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja.
Fenomena ini menghadirkan tantangan baru. Di satu sisi, kemudahan akses informasi memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk belajar banyak hal secara mandiri. Namun di sisi lain, tidak semua informasi yang beredar disertai penjelasan yang memadai mengenai risiko, dampak, maupun konsekuensi yang mungkin muncul. Akibatnya, media sosial perlahan mengambil peran yang sebelumnya dijalankan oleh keluarga, sekolah, maupun tenaga kesehatan sebagai sumber utama pengetahuan.
Baca juga: Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Baru Normalisasi Perilaku Menyimpang
Psikolog sekaligus Wakil Sekretaris DPW PKB DKI Jakarta, Mia Silmiah Sazely, menilai keterbukaan berbagai perilaku yang sebelumnya dianggap tabu tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, masyarakat modern cenderung lebih terbuka terhadap berbagai perbedaan sekaligus semakin cepat beradaptasi dengan perubahan yang muncul di ruang publik maupun media sosial.
“Banyak faktor yang memengaruhi mengapa fenomena LGBT menjadi semakin terbuka dan terang-terangan. Salah satunya adalah masyarakat yang kini lebih toleran terhadap berbagai perubahan sosial. Perilaku yang sebelumnya dianggap tabu perlahan menjadi hal yang biasa karena masyarakat modern cenderung lebih terbuka, lebih cepat beradaptasi, dan sering kali lebih cuek terhadap keadaan di sekitarnya,” ujar Mia.
Ia mencontohkan bahwa perubahan standar kesusilaan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan adanya pergeseran cara pandang masyarakat terhadap norma. Dalam kondisi tersebut, berbagai perilaku yang sebelumnya berada di ruang privat kini lebih mudah tampil di ruang publik tanpa mendapatkan penolakan yang sama seperti pada masa lalu.
Menurut Mia, perkembangan media sosial turut mempercepat proses tersebut. Arus informasi yang masif membuat masyarakat sangat cepat menerima tren, gaya hidup, maupun cara pandang baru yang terus diproduksi dan disebarkan melalui berbagai platform digital.
“Apalagi ketika muncul narasi bahwa perilaku LGBT merupakan bagian dari modernitas dan gaya hidup yang sudah lumrah. Masyarakat saat ini sangat cepat beradaptasi dengan kondisi baru yang mereka temui melalui media sosial,” katanya.
Ruang Dialog yang Semakin Sempit
Sejumlah pengamat pendidikan menilai kondisi tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari masih terbatasnya ruang diskusi yang aman mengenai kesehatan reproduksi dan perkembangan remaja. Banyak anak muda merasa lebih nyaman mencari jawaban di internet dibandingkan bertanya kepada orang tua atau guru. Bukan karena mereka tidak ingin berdialog, melainkan karena sering kali khawatir dianggap melakukan hal yang salah atau mendapatkan respons yang menghakimi.
Ketika ruang percakapan di dunia nyata terasa sempit, media sosial hadir menawarkan jawaban instan. Sayangnya, algoritma tidak selalu mampu membedakan informasi yang telah terverifikasi dengan konten yang hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau opini. Dalam situasi seperti ini, anak muda berpotensi mengambil keputusan penting terkait tubuh dan kesehatannya tanpa pendampingan yang cukup.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa persoalan ini sebaiknya dilihat sebagai tantangan literasi kesehatan, bukan semata-mata persoalan perilaku individu. Sebab, keputusan yang diambil seseorang sering kali dipengaruhi oleh informasi yang tersedia di sekitarnya. Semakin terbatas akses terhadap informasi yang benar, semakin besar kemungkinan muncul kesalahpahaman yang dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Literasi Digital dan Peran Keluarga
Karena itu, penguatan literasi kesehatan dan literasi digital menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Sekolah, keluarga, organisasi masyarakat, hingga pemerintah memiliki peran untuk menghadirkan informasi yang mudah dipahami dan dapat diakses oleh generasi muda. Pendekatan yang terbuka dan berbasis edukasi dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar melarang atau memberikan stigma.
Ruang dialog yang sehat juga perlu diperluas. Anak-anak dan remaja membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka bertanya tanpa takut dihakimi. Dengan begitu, mereka dapat memperoleh penjelasan yang utuh sebelum mengambil keputusan terkait kesehatan maupun perkembangan dirinya.
Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak mungkin dibendung. Media sosial akan tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Tantangannya bukan bagaimana menjauhkan mereka dari arus informasi, melainkan bagaimana memastikan mereka memiliki kemampuan untuk memilah, memahami, dan mengkritisi informasi yang diterima. Di tengah derasnya arus konten digital, pendidikan, literasi, dan pendampingan tetap menjadi fondasi penting agar setiap keputusan yang diambil berangkat dari pengetahuan yang benar dan pertimbangan yang matang.







Leave a Comment