Puti mencoba menggeser cara pandang itu. Ia menekankan bahwa keikutsertaannya bukan langkah individu, melainkan bagian dari dorongan kolektif agar perempuan punya ruang yang sama dalam memimpin.
PKBJakartaID | Jakarta ~ Jakarta Barat lagi masuk fase yang nggak biasa. Kontestasi Muscab PKB yang biasanya terasa teknis, kali ini punya warna yang agak beda. Di antara lima kandidat yang maju, muncul satu nama yang langsung bikin narasi bergeser, Hj. Puti Hasni, satu-satunya perempuan di bursa.
Tapi ini bukan sekadar soal “beda sendiri”, melainkan soal momen ketika politik mulai diuji yakni masih mau nyaman di pola lama, atau mulai buka ruang yang lebih setara?
Puti sendiri nggak datang dengan narasi personal semata. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan kepemimpinan yang lebih adil dan inklusif. Di titik ini, kontestasi Muscab Jakbar jadi lebih dari sekadar adu kuat kandidat, tapi juga jadi cermin, sejauh mana politik kita benar-benar siap memberi ruang bagi perempuan, bukan cuma di daftar, tapi di posisi penentu.
Bukan Sekadar Pelengkap di Daftar Kandidat
Di antara lima nama yang maju, kehadiran Puti Hasni memang paling gampang dilihat sebagai “satu-satunya perempuan”. Tapi kalau cuma berhenti di situ, kita lagi melewatkan pesan yang lebih penting. Bahwa selama ini, perempuan sering ada di politik, tapi belum tentu benar-benar dilibatkan dalam pengambilan arah.
Puti mencoba menggeser cara pandang itu. Ia menekankan bahwa keikutsertaannya bukan langkah individu, melainkan bagian dari dorongan kolektif agar perempuan punya ruang yang sama dalam memimpin. Ini penting, karena politik bukan cuma soal siapa yang hadir, tapi siapa yang didengar.
Dan di situlah letak bedanya. Kehadiran perempuan bukan sekadar melengkapi komposisi, tapi membawa perspektif baru, dari cara melihat masalah sampai menentukan prioritas kebijakan. Politik yang isinya beragam, biasanya lebih dekat dengan realitas dibanding yang itu-itu saja.
Kuota 30 Persen, Angka yang Sering Mentok di Atas Kertas
Narasi kuota 30 persen perempuan sebenarnya bukan hal baru. Hampir semua partai pernah ngomongin ini, dan di atas kertas terlihat progresif. Tapi di praktiknya, sering kali berhenti di angka, cukup untuk memenuhi syarat, belum tentu untuk memberi pengaruh.
Di sinilah pencalonan Puti Hasni jadi menarik. Ini bukan lagi soal memenuhi kuota, tapi naik level ke pertanyaan yang lebih penting, yakni apakah perempuan benar-benar didorong sampai ke posisi kepemimpinan? Atau masih sebatas “ada, tapi nggak menentukan”?
Apalagi momentumnya berdekatan dengan Hari Kartini. Puti secara eksplisit mengingatkan bahwa Kartini bukan cuma untuk diperingati, tapi diteruskan. Artinya, kesetaraan nggak cukup dirayakan, harus diwujudkan, terutama di ruang strategis seperti politik.
Dari Representasi ke Kepemimpinan Nyata
Yang sering terjadi, perempuan sudah masuk ke dalam struktur, tapi belum sampai ke titik pengambilan keputusan. Nah, langkah Puti Hasni ini bisa dibaca sebagai upaya naik kelas, dari sekadar representasi menuju kepemimpinan yang nyata.
Dengan latar sebagai Ketua DPW Perempuan Bangsa DKI Jakarta, ia membawa lebih dari sekadar simbol. Ada pengalaman organisasi, ada kerja-kerja advokasi, dan ada perspektif yang dibangun dari interaksi langsung dengan masyarakat. Ini yang bikin pencalonannya punya bobot lebih.
Kalau ruang seperti ini terus dibuka, dampaknya nggak cuma ke internal partai. Publik juga akan mulai melihat politik dengan cara berbeda, bahwa perempuan bukan opsi tambahan, tapi bagian penting dari arah masa depan. Dan kalau itu konsisten dijalankan, politik kita bisa pelan-pelan jadi lebih inklusif, bukan cuma di angka, tapi juga di praktik. *ACH







Leave a Comment