PKB Jakarta mendorong penggunaan QRIS sebagai budaya baru dalam ekosistem UMKM modern. Sistem pembayaran digital dinilai mampu meningkatkan keamanan transaksi, memperluas pasar, hingga membuka akses permodalan bagi pelaku usaha kecil.
PKBJakartaID | Jakarta ~ Di tengah derasnya arus transformasi digital, wajah ekonomi rakyat ikut berubah. Jika dulu transaksi jual beli identik dengan uang tunai dan recehan, kini pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai akrab dengan sistem pembayaran digital berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Fenomena ini tak lagi hanya terlihat di pusat perbelanjaan modern. Mulai dari pedagang cilok di pinggir jalan, warung kelontong, kedai kopi rumahan hingga tenant makanan di mal, kini perlahan beralih menggunakan QRIS sebagai alat transaksi utama.
Bagi Partai Kebangkitan Bangsa, perubahan ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan bagian dari revolusi ekonomi rakyat yang harus terus diperkuat.
Sekretaris Wilayah DPW PKB DKI Jakarta, H. Mohammad Fauzi menilai, penggunaan QRIS telah terbukti memberi dampak positif terhadap pengembangan sektor UMKM, terutama dalam menciptakan sistem transaksi yang lebih aman, praktis, dan efisien.
“Transformasi digital di sektor UMKM ini harus terus didorong. Dulu transaksi dilakukan secara konvensional, sekarang pelaku usaha bisa menerima pembayaran secara cepat, aman, dan langsung masuk ke rekening mereka,” ujar Fauzi, kepada PKBJakartaID, usai melakukan kunjungan ke beberapa pelaku usaha UMKM di Jakarta, Sabtu (23/6/2026).
QRIS sendiri merupakan sistem pembayaran berbasis kode QR yang dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia. Sistem ini memungkinkan konsumen melakukan pembayaran hanya dengan memindai kode QR menggunakan berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital.
Bagi pelaku UMKM, kehadiran QRIS membawa banyak keuntungan. Selain meminimalkan risiko kehilangan uang tunai, sistem ini juga membantu memperluas pasar karena transaksi bisa dilakukan lintas platform pembayaran.
Dengan QRIS, pembeli tidak lagi dipusingkan dengan perbedaan bank atau aplikasi pembayaran. Semua transaksi dapat dilakukan melalui satu kode QR yang terintegrasi secara nasional.
Menurut Fauzi, langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif di Jakarta.
“Ke depan, PKB Jakarta akan terus mendorong agar Pemprov DKI Jakarta memberikan dukungan yang lebih luas kepada UMKM. Tidak hanya soal akses permodalan, tetapi juga penciptaan ekosistem usaha yang sehat dan modern,” katanya.
Ia menegaskan, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia yang harus mendapatkan perhatian serius, terutama di era digital saat ini.
QRIS Bukan Sekadar Alat Bayar
Lebih dari sekadar metode transaksi, QRIS kini mulai dilihat sebagai instrumen penting dalam membuka akses inklusi keuangan bagi UMKM.
Setiap transaksi digital yang tercatat melalui QRIS secara tidak langsung membentuk rekam jejak keuangan pelaku usaha. Data tersebut dapat menjadi profil kredit yang membantu UMKM memperoleh akses pembiayaan dari lembaga keuangan dan perbankan.
Artinya, pelaku usaha kecil yang sebelumnya dianggap belum “bankable”, kini memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pinjaman modal usaha guna memperluas bisnis mereka.
Di sisi lain, penggunaan QRIS juga dinilai mampu meningkatkan citra profesional UMKM di mata konsumen modern, khususnya generasi muda yang semakin terbiasa dengan transaksi cashless.
Dengan menyediakan layanan pembayaran digital, UMKM dianggap lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan lebih siap bersaing di tengah ekonomi global yang serba cepat.
Meski tantangan seperti kestabilan jaringan internet dan literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah, integrasi QRIS diyakini menjadi langkah strategis untuk membawa UMKM naik kelas.
Transformasi digital kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dan bagi sektor UMKM Jakarta, QRIS perlahan mulai menjadi budaya baru dalam membangun ekonomi rakyat yang lebih modern, inklusif, dan berdaya saing. (AKH)







Leave a Comment