Lo Pikir Politik Jauh? Coba Liat Tagihan Hidup Lo Bulan Ini

Photo by Pexels

Seringkali kita nganggep kenaikan harga itu “yaudah lah ya, wajar.” Padahal, di balik kata “wajar” itu ada keputusan yang dibuat manusia juga. Ada rapat, ada voting, ada kebijakan yang disahkan. Artinya, itu bukan takdir, itu hasil pilihan. Dan pilihan itu harusnya bisa dipertanyakan

PKBJakartaID | Jakarta ~ Kadang kita ngerasa politik itu kayak obrolan di TV. Rame, panas, tapi jauh dari hidup sehari-hari. Padahal, tanpa kita sadar, tiap kali lo bayar listrik, isi bensin, atau ngeluh harga makan siang naik, itu semua ada jejak kebijakan di belakangnya. Politik bukan cuma soal kursi DPR atau debat capres, tapi soal kenapa saldo rekening lo makin tipis padahal tanggal muda baru lewat seminggu.

Masalahnya, kita sering keburu ilfeel duluan sama politik. Dikit-dikit mikir, “Ah, itu urusan orang atas.” Padahal yang “atas” itu justru ngatur hal-hal yang paling dekat sama kita: tarif, pajak, transportasi, sampai harga bahan pokok. Jadi kalau hidup terasa makin mahal, mungkin bukan cuma karena lo boros, bisa jadi ada keputusan yang lo nggak ikut awasi.

Tagihan Nggak Pernah Bohong, Politik Itu Nyangkut di Dompet

Coba deh lo buka catatan pengeluaran bulan ini. Listrik naik dikit, BBM geser dikit, harga kopi langganan juga ikut-ikutan. Hal-hal kecil ini kalau dikumpulin jadi satu, ujungnya bikin lo mikir dua kali buat nongkrong. Dan semua itu bukan kejadian random, nada kebijakan yang ngatur dari hulu ke hilir.

Seringkali kita nganggep kenaikan harga itu “yaudah lah ya, wajar.” Padahal, di balik kata “wajar” itu ada keputusan yang dibuat manusia juga. Ada rapat, ada voting, ada kebijakan yang disahkan. Artinya, itu bukan takdir, itu hasil pilihan. Dan pilihan itu harusnya bisa dipertanyakan.

Ironisnya, banyak orang baru sadar politik itu penting pas kondisi udah kepepet. Pas tagihan numpuk, pas biaya hidup makin nggak masuk akal. Padahal kalau dari awal kita lebih cerewet, lebih kritis, mungkin beberapa keputusan bisa lebih berpihak ke kita, bukan cuma ke angka-angka di laporan.

Dari Scroll Timeline ke Realita, Kita Kebanyakan Nonton, Kurang Ikut Main

Setiap hari kita scrolling, liat isu politik lewat di timeline. Kita ketawa, ngamuk, atau debat di kolom komentar. Tapi setelah itu? Ya udah, hidup jalan lagi, tanpa ada aksi lanjutan. Kita jadi penonton setia, bukan pemain yang ikut nentuin arah cerita.

Padahal, jadi warga negara itu bukan cuma soal punya KTP sama nyoblos lima tahun sekali. Ada ruang buat bersuara, buat nanya, buat ngingetin. Tapi seringnya kita ngerasa “ngapain sih, suara gue doang juga nggak ngaruh.” Padahal kalau semua orang mikir gitu, ya jelas nggak ada yang berubah.

Jadi mungkin masalahnya bukan kita nggak peduli, tapi kita belum ngerasa punya kuasa. Padahal kuasa itu ada, cuma sering kita parkirin sendiri. Dan selama kita masih nyaman jadi penonton, jangan heran kalau harga hidup terus naik, sementara kita cuma bisa ngelus dada sambil nunggu tanggal gajian berikutnya. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment