Ngurus Negara Tapi Nggak Pernah Ngurus Diri, Kenapa Politisi Perlu Belajar dari Gen Z?

Photo by Pexels

Gen Z mulai berani bilang “cukup” ke hal-hal yang nggak sehat. Mereka lebih sadar soal burnout, lebih terbuka ngomongin stres, dan nggak gengsi buat istirahat. Ini bukan tanda lemah, tapi justru bentuk kontrol diri yang selama ini sering diabaikan. Sayangnya, di politik, sikap kayak gini kadang masih dianggap kurang total atau nggak punya daya juang.

Ada ironi yang makin kelihatan belakangan ini: generasi yang sering dibilang “kurang tahan banting” justru paling sadar soal batas diri, kesehatan mental, dan arti hidup yang waras. Sementara di sisi lain, dunia politik masih sering terlihat seperti lomba siapa paling kuat begadang, paling tahan tekanan, dan paling jago pura-pura nggak capek. Gen Z pelan-pelan menggeser cara pandang itu, bahwa produktif bukan berarti harus tumbang, dan peduli bukan berarti harus kehilangan diri sendiri.

Masalahnya, pola lama di politik belum sepenuhnya ikut berubah. Ritmenya masih cepat, tekanannya masih tinggi, dan empatinya kadang kalah sama ambisi. Padahal, kalau politik mau tetap relevan, dia harus belajar juga dari cara Gen Z melihat hidup: lebih manusiawi, lebih sadar batas, dan lebih jujur sama kondisi diri. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya perlu beradaptasi sekarang, anak mudanya, atau justru para pengambil kebijakannya?

Politik Keras Kepala vs Gen Z yang Mulai Bilang “Cukup”

Dunia politik kita masih sering di-set kayak mode “survival”: siapa kuat dia menang. Jam kerja nggak jelas, tekanan tinggi, dan ekspektasi selalu siap 24/7 seolah jadi standar. Masalahnya, pola ini makin nggak nyambung sama cara Gen Z melihat hidup. Buat mereka, kerja keras itu penting, tapi bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup.

Gen Z mulai berani bilang “cukup” ke hal-hal yang nggak sehat. Mereka lebih sadar soal burnout, lebih terbuka ngomongin stres, dan nggak gengsi buat istirahat. Ini bukan tanda lemah, tapi justru bentuk kontrol diri yang selama ini sering diabaikan. Sayangnya, di politik, sikap kayak gini kadang masih dianggap kurang total atau nggak punya daya juang.

Padahal kalau dipikir-pikir, sistem yang terlalu memaksa justru bikin banyak orang tumbang sebelum benar-benar berdampak. Politik butuh orang yang tahan lama, bukan cuma yang kuat di awal. Dan di titik ini, cara hidup Gen Z yang lebih mindful justru bisa jadi “upgrade” buat ekosistem politik yang selama ini terlalu keras ke manusianya sendiri.

Belajar Jadi Manusia Dulu, Baru Ngurus Negara

Sering kali kita lihat kebijakan publik lahir dengan pendekatan yang dingin, angka jalan, target tercapai, tapi manusianya kelupaan. Ini yang bikin banyak kebijakan terasa jauh dari realita. Padahal, kalau pembuat kebijakan lebih peka sama hal-hal sederhana (capek, stres, tekanan hidup) hasilnya bisa jauh lebih relevan.

Gen Z datang dengan perspektif yang beda. Mereka terbiasa ngomongin empati, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup sebagai hal yang valid, bukan sekadar “drama”. Kalau perspektif ini masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan, politik bisa jadi lebih manusiawi. Nggak cuma soal membangun sistem, tapi juga memastikan orang yang ada di dalamnya tetap waras dan berfungsi dengan baik.

Akhirnya, mungkin ini bukan soal siapa yang lebih kuat atau lebih tahan banting. Tapi siapa yang lebih paham manusia. Karena ngurus negara itu, pada dasarnya, ya ngurus manusia juga. Dan kalau politik mau tetap relevan ke depan, mungkin sudah saatnya belajar dari Gen Z: jadi manusia dulu, baru sibuk jadi pejabat. *ACH

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment